Di Balik Seragam Loreng: Sentuhan Manusiawi TNI di Tengah Puing Bencana Sumatra

- Jumat, 23 Januari 2026 | 16:24 WIB
Di Balik Seragam Loreng: Sentuhan Manusiawi TNI di Tengah Puing Bencana Sumatra

Lumpur masih di mana-mana. Debu dan rasa lelah menyelimuti, tapi di tengah puing-puing bencana itu, seragam loreng justru membawa sesuatu yang lebih. Di Sumatra Barat dan sekitarnya, para prajurit TNI turun langsung. Mereka membaur, bekerja tanpa banyak bicara. Perannya nyata, jauh melampaui sekadar membangun infrastruktur yang rusak.

Mereka terjun ke hal-hal yang sangat manusiawi, menyentuh kehidupan sehari-hari warga yang terdampak.

Di Desa Hutagodang, Kecamatan Batangtoru, Jumat lalu, suasana itu terasa. Beberapa personel bahu-membahu membersihkan rumah seorang warga, Sitompul, dari endapan lumpur yang mengeras. Tak jauh dari situ, di Masjid Subulul Ubudyah, kuas cat bergerak perlahan. Sentuhan warna baru di dinding masjid seperti secercah harapan, agar warga bisa segera beribadah dengan tenang lagi.

Semangat serupa terpancar di SMP Swasta Fransiskus, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah. Dengan sepatu boot dan cangkul, mereka membersihkan ruangan demi ruangan. Kabarnya, progresnya sudah mencapai 93 persen. Angka itu bicara banyak soal ketekunan mereka.

Lalu ada SDN 152981 Tukka. Di sana, selain pembersihan total, pengecatan dilakukan agar anak-anak bisa kembali belajar dengan layak. Namun begitu, kerja mereka tak cuma soal bangunan. Di Desa Purba Sinamba, misalnya, perhatian tertuju pada sebuah jembatan gantung. Papan lantainya yang rusak diperbaiki satu per satu. Bagi warga setempat, jembatan itu urat nadi. Tanpanya, aktivitas sehari-hari lumpuh.

Di sisi lain, yang tak kalah penting adalah urusan perut. Beberapa dapur umum didirikan, seperti di Desa Tilang Julu dan halaman Kantor Camat Batang Toru. Di sanalah pemandangan lain terlihat: prajurit dengan cekatan memotong bawang, meracik bumbu, memasak untuk ribuan orang. Suasana hangat, penuh canda, terutama saat mereka ngobrol dengan ibu-ibu sekitar. Humanis sekali. Sama seperti di Ran Durlap Mabes TNI di Desa Poriaha, di mana ketegasan seragam sejenak luluh oleh kepedulian.

Peran mereka bahkan merambah ke layanan kesehatan. Di tenda pengungsian Desa Batu Hula dan permukiman warga Hutagodang, personel TNI dengan alat seadanya memeriksa keluhan warga. Mereka bertindak layaknya tenaga medis, mendengarkan dengan sabar, menunjukkan kepedulian yang tulus.

Intinya, kehadiran mereka ini memberi lebih dari sekadar rasa aman. Ia membangkitkan semangat untuk bangkit. Di Sumatra Barat dan wilayah sekelilingnya, prajurit-prajurit ini membuktikan satu hal: TNI hadir bukan sebagai simbol, tapi sebagai mitra yang berjuang bersama di masa-masa tersulit.

Aceh Berangsur Pulih: Sekolah dan Masjid Jadi Prioritas

Gambaran serupa ternyata terjadi juga di Aceh. Pasca-banjir yang menyisakan lumpur tebal, upaya pembersihan digencarkan. Para prajurit, bersama warga, menyekop endapan tanah dan sampah. Di beberapa titik, deru gergaji mesin terdengar memotong kayu-kayu besar yang terbawa arus hingga ke fasilitas publik.

Fokusnya jelas: memulihkan fasilitas umum secepat mungkin. Jalan raya, selokan, tentu saja. Tapi yang paling krusial adalah sekolah dan tempat ibadah.

Di Aceh Tamiang, misalnya, mereka membersihkan TK Desa Pengidam sampai parit Dusun Jaya Baru. Lalu di Bireuen, SDN 3 Pante Gajah dan SMKN 1 Peusangan jadi sasaran. Rumah-rumah warga di Dusun Teuping Ara juga tak luput. Kemudian di Pidie Jaya, pembersihan merambah ke pondok pesantren, sekolah, hingga kantor keucik.

Gotong royong seperti ini menyebar. Dari Desa Pertik di Gayo Lues, Desa Jambak di Aceh Barat, sampai ke rumah-rumah warga di Aceh Tenggara. Semuanya dilakukan agar kehidupan bisa berdenyut normal kembali.

Prioritas ini sejalan dengan arahan dari pimpinan. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menegaskan hal itu.

"Saya minta perhatian bahwa kalau bisa sekolah-sekolah, juga puskesmas, rumah sakit supaya bisa berfungsi secepatnya kembali," ujarnya dalam sebuah rapat koordinasi di Aceh Tamiang beberapa waktu lalu.

Pemerintah berkomitmen memastikan proses pemulihan berjalan cepat dan terkoordinasi. Tujuannya satu: agar masyarakat terdampak di seantero Sumatra bisa kembali beraktivitas dengan aman dan normal. Secepat mungkin.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar