Di Davos, Swiss, Kamis lalu, Presiden Prabowo Subianto akhirnya memenuhi undangan World Economic Forum. Padahal, undangan serupa sudah datang setahun sebelumnya. Tapi waktu itu, ia memilih untuk menolak.
Di hadapan para pemimpin global, Prabowo sendiri yang mengungkit hal itu.
"Saya diundang untuk berbicara tahun lalu di sini dan saya menolak," ujarnya.
Alasannya sederhana tapi cukup masuk akal. Kala itu, ia baru dua bulan menduduki kursi kepresidenan. Menurutnya, belum ada capaian berarti yang bisa dibanggakan. Datang tanpa bekal prestasi, khawatirnya hanya akan jadi ajang basa-basi belaka.
"Karena seandainya saya datang tahun lalu, saya baru memimpin pemerintahan saya selama dua bulan. Jadi apa yang bisa saya katakan? Saya hanya akan bisa bicara omong kosong, memberikan basa-basi," tutur Prabowo dengan nada blak-blakan.
Kini, setelah setahun lebih memimpin, suasana hati dan bahan bicaranya jelas berbeda. Ia tampil dengan nada lebih percaya diri, siap memamerkan portofolio kerjanya.
"Hari ini, saya berdiri di depan Anda dengan kepercayaan diri, dengan kebanggaan atas pencapaian kami. Dalam satu tahun kami telah mencapai perolehan yang luar biasa, reformasi yang luar biasa," ungkap dia penuh semangat.
Berbagai capaian ia sebutkan, merentang dari ekonomi sampai penegakan hukum. Salah satu fokus yang ia soroti adalah upaya memberantas kasus-kasus megakorupsi, terutama yang menyangkut tata kelola minyak mentah. Sebuah pekerjaan rumah besar yang ia coba sentuh di tahun pertamanya.
Artikel Terkait
Mustamin Raga Jabat Posisi Baru di Gowa, Publik Harapkan Tata Kelola Pemerintahan Lebih Transparan
Nelayan Temukan Satu Kilogram Sabu Terdampar di Pesisir Pangkep, Polisi Selidiki Jaringan Narkoba
Polrestabes Makassar Ungkap Peredaran Sinte Bentuk Cair untuk Vape, Sembilan Tersangka Diamankan
Anggota DPR Minta Pemerintah Tak Lengah Hadapi Ancaman Kemarau Ekstrem El Nino Godzilla