Harapan itu pupus sudah. Pratama Arhan gagal mencatatkan namanya sebagai pemain Indonesia pertama yang juara kompetisi antarklub Asia. Mimpi itu kandas setelah klubnya, Bangkok United, takluk dengan agregat 1-3 dari Gamba Osaka dalam semifinal AFC Champions League 2.
Padahal, sempat ada asa. Di leg pertama di Jepang, Bangkok United menang tipis 1-0. Hasil itu tentu saja membuka peluang lebar untuk melangkah ke final. Tapi sepak bola memang tak pernah bisa ditebak.
Kembali ke kandang sendiri di leg kedua, situasinya malah berbalik seratus delapan puluh derajat. Gamba Osaka tampil menggila. Mereka mengamuk dan membungkam tuan rumah dengan skor telak 3-0. Ryoya Yamashita membuka keunggulan di menit 19, disusul Issam Jebali yang menggandakannya sebelum turun minum. Ryotaro Meshino kemudian menggenapkan penderitaan Bangkok United di menit-menit akhir.
Dengan kemenangan itu, Gamba Osaka dengan mantap melaju ke partai puncak. Sementara perjalanan Bangkok United, dan juga Arhan, harus terhenti di semifinal. Sungguh sayang. Andai saja mereka bisa juara, Arhan akan menoreh sejarah yang sangat istimewa untuk sepak bola Indonesia.
Di tengah kekecewaan ini, setidaknya ada kabar baik yang bisa diambil. Pratama Arhan sudah kembali. Setelah berbulan-bulan absen karena cedera lutut sejak akhir Januari, bek kiri itu akhirnya ikut latihan resmi bersama skuad pada pertengahan April lalu.
Memang, dia belum dimainkan di laga semifinal yang keras itu. Tapi pemulihannya jelas sinyal positif, terutama bagi pelatih Timnas Indonesia, John Herdman.
Kesempatan itu terbuka lebar. Apalagi nanti di Piala AFF 2026, sejumlah pemain diaspora yang biasa mengisi posisi bek sayap kiri dipastikan tak bisa turun. Di sinilah Arhan punya peluang emas untuk kembali memperkuat Garuda. Tentu, dengan catatan dia sudah kembali ke performa terbaiknya.
Artikel Terkait
AS Siap Naikkan Tarif Impor untuk Indonesia dan Asia Awal Juli
MTI Dorong Transformasi Angkutan Umum sebagai Solusi Krisis Energi
Australia Minat Impor Pupuk Urea dari Indonesia, Pemerintah Utamakan Kebutuhan Petani Lokal
BMKG Bantah Isu Kemarau 2026 sebagai yang Terparah dalam 30 Tahun