Rabu pagi di ruang rapat Komisi XI DPR RI, Calvin Kizana menyimpan senyum tipis. Ekspresinya lebih mirip lipatan kesabaran. Baginya, ruangan ini bukan hal baru. Tapi data dari OJK yang terpampang di layar itu terasa menusuk. Tercatat, 72% pedagang kripto berizin di Indonesia mereka yang berusia 25 sampai 29 tahun merugi sepanjang 2025. Angkanya menggumpal di udara, menantang untuk diurai.
“Ini fase pertumbuhan,” begitu mungkin bisik hatinya, mengulang mantra yang sudah akrab. Tapi sebagai CEO Tokocrypto, Calvin paham. Mantra itu takkan cukup meredam kegelisahan yang terpancar dari wajah para anggota dewan. Masalahnya lebih dalam, bahkan paradoks. Lihat saja datanya: nilai transaksi kripto di Indonesia melonjak hingga Rp482,23 triliun tahun lalu. Fantastis. Namun angka sebesar itu seolah bersembunyi di balik awan kerugian yang dialami trader lokal.
Hasan Fawzi dari OJK sudah menyentak dengan penjelasannya. Suaranya datar, tapi tegas.
“Mayoritas transaksi masyarakat kita justru mengalir ke bursa dan pedagang di luar negeri, yang regional dan global. Likuiditas tinggi, ragam asetnya memukau. Itu magnet yang kuat,” ujarnya.
Lalu dia menambahkan, “Ini jadi PR kita bersama.”
Bagi Calvin, gambaran ini persis seperti punya sungai besar di depan pintu, tapi orang-orang malah sibuk menimba air dari danau nun jauh di seberang. Dia membangun Tokocrypto di tepian sungai itu. Pondasinya dia perkokoh dengan kepatuhan regulasi dan manajemen risiko ketat. Usahanya tak sia-sia; platformnya termasuk segelintir yang sudah cetak laba. Tapi tetap saja, kebanyakan orang masih menganggap sungai lokal sebagai arus deras berbahaya. Danau di seberang terlihat lebih tenang dan menggiurkan.
Profil investor yang dilukiskan riset LPEM FEB UI bikin khawatir sekaligus berharap. Dominannya anak muda di bawah 35 tahun, lulusan SMA, dengan penghasilan bulanan di bawah Rp8 juta. Mereka gesit, melek digital, dan haus peluang. Tapi bantalan finansialnya tipis. Mereka adalah pionir di ekonomi digital yang negerinya sendiri masih sibuk merajut infrastruktur kepercayaan.
“Kalau basis investornya dari kelompok dengan bantalan terbatas, perlindungan konsumen harus lebih ketat,” tegas Calvin.
Bagi dia, ini urusan nyata. Soal menyelamatkan pemula yang silau oleh iming-iming “moon” dan lamborghini di media sosial, dari jerat informasi menyesatkan yang bertebaran di Twitter, Telegram, atau Discord. Literasi adalah tameng pertama. Sebelum mereka terjun ke medan investasi yang sama sekali tak kenal ampun.
Tapi selain misinformasi, ada momok yang lebih nyata: platform ilegal. Keberadaan mereka yang merajalela bukan cuma bikin arena perburuan jadi kacau. Negara juga dirugikan. Potensi pajak yang menguap diperkirakan mencapai Rp1,1 hingga 1,7 triliun per tahun. Coba bayangkan, angka segitu bisa buat membangun ratusan sekolah.
Di titik inilah garis pemisah harus dibuat terang benderang. Antara sungai yang terjaga dan rawa-rawa gelap. Penegakan hukum jelas sebuah keharusan. Tapi bagi Calvin, itu belum cukup.
“Perlu dibarengi literasi dan kolaborasi,” katanya.
Kolaborasi segi empat antara regulator, industri, komunitas, dan akademisi. Impian besarnya sederhana: membangun ekosistem yang tak cuma tumbuh, tapi tumbuh dengan aman dan berkelanjutan. Tempat di mana investor tak perlu lagi melirik ke danau seberang, karena sungai di depan rumah sendiri sudah jernih, aman, dan menjanjikan.
Mungkin di malam hari, Calvin masih memikirkan angka 72% itu. Itu bukan cuma statistik kerugian. Lebih dari itu, ia adalah cermin uji naluri kolektif kita. Di satu sisi, ada dorongan untuk menjelajah, memburu peluang di pasar global tanpa batas. Di sisi lain, ada keinginan untuk membangun rumah yang kokoh, ekosistem lokal yang bisa diandalkan.
Transisi pengawasan kripto ke OJK lewat POJK 27/2024 adalah kompas baru. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun jembatan. Menghubungkan kegelisahan pemula dengan pengetahuan, naluri berburu dengan aturan main, serta arus modal global dengan fondasi pasar domestik yang sehat.
Di labirin dunia digital yang penuh teka-teki ini, jalan keluar terbaik mungkin bukan mencari pintu rahasia. Tapi bersama-sama menyalakan lebih banyak lampu. Agar labirin itu tak lagi menakutkan, melainkan jadi arena petualangan yang bertanggung jawab.
Artikel Terkait
PSM Makassar Mulai Bangkit di Papan Bawah, Ujian Berat Lawan Bali United Jadi Penentu
PSG Hajar Angers 3-0, Gol Cepat dan Dominasi Penuh Kokohkan Puncak Klasemen Ligue 1
Arsenal Kembali ke Puncak Klasemen Usai Kalahkan Newcastle 1-0 Berkat Gol Cepat Eze
Tim SAR Makassar Cari Perempuan 51 Tahun yang Tersesat di Hutan Palopo