Sungai di Depan Mata, Dana Mengalir ke Danau Seberang: Dilema Investor Kripto Muda Indonesia

- Kamis, 22 Januari 2026 | 16:50 WIB
Sungai di Depan Mata, Dana Mengalir ke Danau Seberang: Dilema Investor Kripto Muda Indonesia

Rabu pagi di ruang rapat Komisi XI DPR RI, Calvin Kizana menyimpan senyum tipis. Ekspresinya lebih mirip lipatan kesabaran. Baginya, ruangan ini bukan hal baru. Tapi data dari OJK yang terpampang di layar itu terasa menusuk. Tercatat, 72% pedagang kripto berizin di Indonesia mereka yang berusia 25 sampai 29 tahun merugi sepanjang 2025. Angkanya menggumpal di udara, menantang untuk diurai.

“Ini fase pertumbuhan,” begitu mungkin bisik hatinya, mengulang mantra yang sudah akrab. Tapi sebagai CEO Tokocrypto, Calvin paham. Mantra itu takkan cukup meredam kegelisahan yang terpancar dari wajah para anggota dewan. Masalahnya lebih dalam, bahkan paradoks. Lihat saja datanya: nilai transaksi kripto di Indonesia melonjak hingga Rp482,23 triliun tahun lalu. Fantastis. Namun angka sebesar itu seolah bersembunyi di balik awan kerugian yang dialami trader lokal.

Hasan Fawzi dari OJK sudah menyentak dengan penjelasannya. Suaranya datar, tapi tegas.

“Mayoritas transaksi masyarakat kita justru mengalir ke bursa dan pedagang di luar negeri, yang regional dan global. Likuiditas tinggi, ragam asetnya memukau. Itu magnet yang kuat,” ujarnya.

Lalu dia menambahkan, “Ini jadi PR kita bersama.”

Bagi Calvin, gambaran ini persis seperti punya sungai besar di depan pintu, tapi orang-orang malah sibuk menimba air dari danau nun jauh di seberang. Dia membangun Tokocrypto di tepian sungai itu. Pondasinya dia perkokoh dengan kepatuhan regulasi dan manajemen risiko ketat. Usahanya tak sia-sia; platformnya termasuk segelintir yang sudah cetak laba. Tapi tetap saja, kebanyakan orang masih menganggap sungai lokal sebagai arus deras berbahaya. Danau di seberang terlihat lebih tenang dan menggiurkan.

Profil investor yang dilukiskan riset LPEM FEB UI bikin khawatir sekaligus berharap. Dominannya anak muda di bawah 35 tahun, lulusan SMA, dengan penghasilan bulanan di bawah Rp8 juta. Mereka gesit, melek digital, dan haus peluang. Tapi bantalan finansialnya tipis. Mereka adalah pionir di ekonomi digital yang negerinya sendiri masih sibuk merajut infrastruktur kepercayaan.

“Kalau basis investornya dari kelompok dengan bantalan terbatas, perlindungan konsumen harus lebih ketat,” tegas Calvin.


Halaman:

Komentar