Gelombang Pekerja Scam WNI Serbu KBRI Phnom Penh Usai Razia Kamboja

- Kamis, 22 Januari 2026 | 08:24 WIB
Gelombang Pekerja Scam WNI Serbu KBRI Phnom Penh Usai Razia Kamboja

Gelombang WNI Tersandung Sindikat Scam Berdatangan ke KBRI Phnom Penh

Operasi besar-besaran pemerintah Kamboja memberantas kejahatan siber ternyata berimbas langsung pada ratusan warga negara Indonesia di sana. Mereka yang sebelumnya terlibat dalam jaringan penipuan daring kini berbondong-bondong mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh, mencari jalan pulang.

Dubes RI untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, mengonfirmasi hal ini. Gelombang kedatangan warga itu terjadi tak lama setelah Perdana Menteri Kamboja memberi perintah tegas untuk menindak tegas jaringan scam yang beroperasi di berbagai wilayah.

“Perdana Menteri Kamboja menginstruksikan agar aparat hukum meningkatkan upaya pemberantasan kegiatan penipuan daring. Akibatnya, banyak sindikat scam mulai dari Poipet, Sihanoukville, Kampot, sampai Tbong Khmum membiarkan pekerjanya keluar,”

ujar Santo dalam sebuah keterangan video.

Dampaknya langsung terasa. Cuma dalam dua hari, 16 dan 17 Januari, tercatat 243 WNI datang ke KBRI. Mereka minta difasilitasi untuk dideportasi. Esoknya, pada tanggal 18, tambah lagi 65 orang. “Jadi totalnya selama dua hari terakhir sudah terdapat 308 WNI yang melapor secara walk in ke KBRI setelah dikeluarkan dari sindikat penipuan daring,” kata Santo. Dan ini belum selesai. Dia perkirakan jumlahnya akan terus membengkak seiring operasi yang masih terus berjalan.

“Karena upaya pemberantasan ini akan berlanjut, KBRI memprediksi masih banyak lagi WNI yang akan mengalir dari daerah ke Phnom Penh,”

tambahnya.

Kondisi mereka secara fisik disebut aman. Tapi masalah yang dihadapi beragam sekali. Ada yang sudah bertahun-tahun terjebak di bisnis haram itu, ada pula yang baru beberapa bulan. “Ada yang masih pegang paspor, ada yang paspornya disita sindikat. Ada yang overstay, ada yang izin tinggalnya masih valid. Ada yang ingin segera pulang, tapi ada juga yang masih ingin mencoba mencari pekerjaan lain di Kamboja,” jelas Santo. Situasinya benar-benar campur aduk.

Eksodus Usai Sang Bos Dideportasi

Di Sihanoukville, sebuah kota pesisir yang dikenal sebagai sarang bisnis ilegal, pemandangan tak biasa terjadi. Ratusan orang terlihat membawa koper, bahkan ada yang menggotong komputer, monitor, sampai hewan peliharaan mereka keluar dari Kasino Amber. Mereka adalah pekerja scam yang mulai hengkang setelah Chen Zi, salah satu bos paling dicari, ditangkap dan dideportasi ke China.

“Kamboja sedang bergejolak, sudah tidak aman untuk bekerja di sini,”

keluh seorang pekerja beretnis China kepada AFP. Rasanya ketakutan itu menular. Pekan lalu, kompleks-kompleks bisnis serupa di berbagai lokasi juga ramai dengan aktivitas kepergian.

Mereka umumnya adalah korban janji kerja dengan upah menggiurkan, tapi akhirnya terperangkap di kompleks tertutup. Beberapa bahkan kabur sebelum penggerebekan terjadi. Target utama bisnis ini adalah warga China sendiri, dengan modus operandi yang bervariasi, dari skrom asmara palsu hingga investasi kripto bodong.

“Perusahaan kami di China mengatakan, bahwa kami harus pergi sekarang juga,”

kata seorang pekerja asal Bangladesh di lokasi yang sama. Meski begitu, beberapa masih berusaha optimis. “Tapi sepertinya kita aman-aman saja, ada sejumlah tawaran pekerjaan baru,” ujarnya.

Pemicu: Tangkap Bos Buronan

Chen Zi, sang bos yang dideportasi itu, adalah otak di balik Prince Group. Perusahaannya ini terlibat dalam kriminalitas siber dan mengelola sejumlah tempat judi di hotel-hotel Sihanoukville. Atas permintaan pemerintah China, dia akhirnya dideportasi pada awal Januari. Otoritas China menyebut ekstradisi ini sebagai buah kerja sama penegakan hukum yang sukses antara kedua negara.

Lonjakan yang Fantastis

Gelombang pengungsi scam ini mencapai puncaknya dalam lima hari terakhir. KBRI Phnom Penh mencatat, sudah 1.440 WNI yang mereka tangani. Angka yang benar-benar meledak terjadi pada Senin, 19 Januari, di mana 520 orang datang hanya dalam satu hari. Sebuah angka yang sangat signifikan dibanding total penanganan kasus sepanjang 2025 yang ‘hanya’ 5.008.

“Angka ini cukup fantastis,”

tulis KBRI dalam rilisnya. Mereka yakin arus ini belum akan reda. Mayoritas WNI yang datang menghadapi masalah dokumen: paspor disita sindikat atau izin tinggal yang tidak valid.

Saat ini, proses pendataan dan asesmen masih berjalan cepat. KBRI sudah mulai menerbitkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) secara masif. Beberapa WNI yang sakit sudah dirujuk ke rumah sakit, sementara empat orang lainnya dilaporkan telah pulang sendiri.

Untuk mempercepat repatriasi, KBRI tengah berkoordinasi intens dengan polisi dan imigrasi Kamboja. Mereka berusaha mencari keringanan denda overstay dan mempermudah penerbitan exit permit. Imbauan juga disampaikan: WNI lain yang masih bersembunyi di Kamboja agar segera melapor, dan masyarakat diimbau waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan kedutaan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar