Kolaborasi Warga dan Pemerintah Jaga Kali Code dari Ancaman Banjir

- Rabu, 21 Januari 2026 | 17:12 WIB
Kolaborasi Warga dan Pemerintah Jaga Kali Code dari Ancaman Banjir

Pagi itu, aliran Sungai Code terlihat tenang. Tapi jangan salah, ancamannya nyata. Di balik permukaan yang kalem itu, potensi banjir dan longsor mengintai, siap datang kapan saja jika kelestarian lingkungan sekitar diabaikan.

Kesadaran akan ancaman itulah yang akhirnya mempertemukan pemerintah dan komunitas dalam satu tujuan: merawat sungai-sungai di Yogyakarta. Ini bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bagian dari upaya serius mitigasi bencana.

Menurut Maryadi Utama, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), kolaborasi dengan berbagai kelompok masyarakat menjadi senjata utama. Tujuannya jelas, memitigasi risiko banjir dan longsor di sepanjang aliran sungai, termasuk Code.

"Sepanjang Kali Code ini harus kita jaga baik tutupan lahan maupun kebersihan sungainya," tegas Maryadi.

"Dengan begitu, bencana bisa kita hindari. Tidak seperti di daerah lain yang kerap dihantam banjir bandang dan tanah longsor."

Perkataan itu disampaikannya dalam acara Pengukuhan Komunitas Peduli Sungai Bendung Surokarsan–Kali Code, Rabu (21/1) lalu di Gondomanan. Bagi Maryadi, sinergi antara dinas terkait, komunitas, dan semua pemangku kepentingan adalah kunci yang tak bisa ditawar.

"Kami terus bergerak membentuk komunitas-komunitas yang aktif," ujarnya. "Agar kita bisa sama-sama merawat lingkungan. Pada akhirnya, alam juga yang akan menjaga kita kembali."

Lalu, bagaimana kondisi terkini sungai-sungai di kota ini? Maryadi menyebut debit air masih terkendali. Meski sempat naik akibat hujan lebat beberapa waktu lalu, situasinya belum mengkhawatirkan.

"Debit puncak kemarin masih bisa kita amankan. Bahkan di beberapa titik seperti Winongo dan Gajahwong, alhamdulillah, semuanya masih terkontrol," paparnya.

Namun begitu, ia mengingatkan bahwa upaya penanaman pohon tidak boleh kendur. Tutupan lahan yang baik, dalam pandangannya, adalah tameng penting pengaruhi cuaca ekstrem.

"Cuaca ekstrem terjadi salah satunya karena kurangnya tutupan lahan. Makanya kita harus giat menanam. Setiap hari. Harapannya, setiap orang punya kontribusi," kata Maryadi menekankan.

Antisipasi Cuaca Ekstrem

Di sisi lain, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengakui masih ada beberapa titik rawan di kota ini. Terutama saat hujan deras mengguyur tanpa ampun.

"Seperti kejadian talud ambrol kemarin. Sebenarnya sudah kami rencanakan pembangunannya untuk mengantisipasi. Tapi, pembangunan belum sempat dilakukan, banjir dan gogosan (ambrol) sudah lebih dulu datang," jelas Hasto.

Untuk penanganan jangka panjang, Pemkot Yogyakarta berencana berkolaborasi dengan BBWSSO. Fokusnya pada pembangunan tanggul yang lebih permanen.

"Kita akan mengatasinya secepat mungkin," tegasnya.

Ia juga menyoroti beberapa rumah warga yang terdampak. Bagian bawah bangunan ada yang longsor diterjang banjir.

"Ini juga akan kami tangani secepatnya. Bukan dengan beronjong sementara, tapi dengan pembangunan permanen," pungkas Hasto.

Jadi, meski sungai pagi itu terlihat tenang, kerja-kerja merawatnya tak boleh berhenti. Semuanya berjalan beriringan, dari hulu ke hilir, demi mengantisipasi apa yang mungkin datang.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar