BRI dan Semangat Kartini di Kebun Kota
Peran perempuan dalam menggerakkan roda kehidupan memang tak terbantahkan. Dari urusan domestik hingga ranah ekonomi, kontribusi mereka nyata adanya. Nah, di tengah semangat zaman yang menuntut kesetaraan, BRI lewat program CSR-nya mencoba ambil bagian. Mereka punya cara unik untuk memberdayakan: mengajak kaum perempuan bertani di tengah beton.
Programnya bernama BRInita, singkatan dari BRI Bertani di Kota. Intinya, mereka bantu warga, khususnya ibu-ibu, untuk memanfaatkan lahan sempit jadi kebun produktif. Caranya? Dengan membangun rumah tanaman alias greenhouse. Tapi nggak cuma satu metode, ada tiga model yang ditawarkan biar sesuai kondisi lokasi.
Pertama, vertikultur. Ini cocok banget buat yang lahannya terbatas. Tanaman ditata secara vertikal, bisa pakai paralon atau botol bekas yang disusun bertingkat. Lalu ada hidroponik, metode tanam tanpa tanah yang mengandalkan air bernutrisi. Yang terakhir, wall gardening. Prinsipnya mirip vertikultur, cuma medianya memanfaatkan dinding kosong jadi hijau dan produktif.
Menurut sejumlah saksi, ketiga metode itu terbukti efektif. Bisa buat nanam sayur-mayur, buah, sampai tanaman obat. Hasilnya nggak cuma untuk konsumsi sendiri, tapi punya nilai jual.
Namun begitu, bantuan fisik saja tidak cukup. BRI juga memberikan pendampingan. Mereka gandeng ahli untuk memberi pelatihan pengelolaan, sekaligus memantau perkembangan kelompok. Tujuannya jelas: agar kegiatan ini berkelanjutan dan benar-benar bisa menambah penghasilan.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan lebih jauh soal program ini.
“BRInita fokus pada pengelolaan kebun perkotaan. Kami ingin mendorong peran aktif masyarakat, terutama perempuan, untuk ketahanan pangan keluarga dan komunitas. Caranya lewat pendampingan pemanfaatan lahan sempit, budidaya yang produktif, sampai pengolahan hasil panen,” ujarnya.
Jadi, program ini bukan sekadar aktivitas tambal sulam. Di sisi lain, ia punya dampak yang lebih luas. Dhanny menekankan, BRInita adalah bentuk tanggung jawab sosial perusahaan. Selain mendorong produktivitas perempuan, program ini juga mendukung kelestarian lingkungan di kawasan padat penduduk.
Pencapaiannya sejauh ini cukup menggembirakan. Sejak diluncurkan tahun 2022, BRInita sudah menjangkau 40 kelompok di 40 titik ruang hijau. Lebih dari 1.300 orang terlibat, dan kontribusinya terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia untuk peserta perempuan mencapai 47 persen. Angka yang tidak main-main.
Dari sisi lingkungan, hasilnya juga konkret. Ribuan tanaman sayur telah dipanen. Mereka juga memproduksi pupuk organik cair, eco enzyme, bahkan maggot BSF. Yang menarik, kegiatan bertani kota ini ternyata berkontribusi pada efisiensi emisi gas rumah kaca mencapai ratusan kilogram karbon dioksida ekuivalen.
“Ini menjadi wadah positif,” kata Dhanny lagi.
“Pelatihan dan program pemberdayaan di dalamnya diharapkan bisa mendongkrak kesejahteraan kaum perempuan.”
Pada akhirnya, BRInita dilihat sebagai perwujudan nyata semangat Kartini di era modern. Dengan mengubah lahan terbatas jadi ruang produktif, program ini membuka jalan. Perempuan tidak hanya berdaya secara ekonomi, tetapi juga menjadi agen perubahan di lingkungan terdekat mereka. Sebuah langkah kecil yang dampaknya bisa meluas.
Artikel Terkait
Menteri Angkatan Laut AS Mundur di Tengah Ketegangan dengan Iran
Uang Beredar Melesat 9,7%, Tertinggi Sejak Februari 2026
Sidang Suap Bea Cukai Rp 40 Miliar, Pemilik PT Blueray Segera Dihadapkan ke Hakim
Letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki Lumpuhkan Bandara Frans Seda, 122 Penumpang Terdampak