Menu Gratis Berujung Petaka: Ratusan Santri Grobogan Keracunan Usai Santap Makanan Terkontaminasi

- Rabu, 21 Januari 2026 | 14:40 WIB
Menu Gratis Berujung Petaka: Ratusan Santri Grobogan Keracunan Usai Santap Makanan Terkontaminasi

Perasaan serupa diungkapkan Rahmat dan beberapa santri lainnya. Mereka masih diliputi kecemasan kalau-kalau diminta menyantap menu MBG lagi. Saat ini, kepercayaan mereka lebih besar pada makanan yang dimasak langsung oleh dapur pesantren.

Menanggapi hal itu, Kepala Ponpes Miftahul Huda, Luthfi Al Hakim, menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak program pemerintah tersebut. Hanya saja, dia mendesak adanya evaluasi menyeluruh dari pengelola SPPG.

"Tujuan MBG itu baik, tapi kebersihan dan kualitas harus benar-benar dijaga. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang," kata Luthfi.

Pesantrennya sendiri sebenarnya sudah berpengalaman mengelola makanan untuk sekitar 1.500 santri secara swadaya. Tim dapur internal mereka dinilai terkontrol dengan baik. Bahkan, Luthfi sudah mengajukan permintaan khusus ke Badan Gizi Nasional.

Ia berharap pengelolaan dapur MBG bisa diserahkan langsung ke pihak pesantren. "Agar pengawasan lebih maksimal," tuturnya.

Operasional SPPG Dihentikan Sementara

Menanggapi insiden ini, Badan Gizi Nasional menyatakan bertanggung jawab penuh. Koordinator Regional SPPI Jawa Tengah, Reza Mahendra, menyampaikan permohonan maaf. Dia juga memastikan semua biaya pengobatan korban akan ditanggung, termasuk yang tidak dicover BPJS.

Langkah konkret pun segera diambil. BGN menghentikan sementara operasional SPPG Kuwaron 1 dan memasang garis polisi di lokasi. Hasil pemeriksaan awal menemukan sejumlah pelanggaran yang cukup serius.

Mulai dari Instalasi Pengolahan Air Limbah yang tidak memenuhi standar, sampai tata letak dapur yang berantakan. "Ini jadi pembelajaran penting. SPPG baru bisa beroperasi kembali setelah semua standar dipenuhi," tegas Reza.

Pemkab Grobogan juga ikut bersuara. Mereka tak akan ragu merekomendasikan penutupan SPPG yang terbukti melanggar. Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh SPPG di wilayahnya akan segera digelar.

Sekda Grobogan, Anang Armunanto, juga mengajak masyarakat berperan. "Kami minta masyarakat ikut mengawasi. Jika ada temuan, segera laporkan," pintanya.

Kasus keracunan massal ini, sekali lagi, menyoroti titik lemah sebuah program yang sebenarnya mulia. Persoalan standar higienitas, pengawasan dapur, dan jaminan keamanan pangan bagi anak-anak, tampaknya masih perlu perhatian ekstra.


Halaman:

Komentar