Mededeg, dongkol, jengkel, mangkel, muak, marah semua emosi itu percuma. Segala tuduhan dan hujatan takkan digubris oleh pemilik kekuasaan.
"Bisa ditebak, Eggi dengan jumawa, riang gembira dari mancanegara, bakal bergumam tanpa beban: Emang Gue Pikirin," ujar Sutoyo.
Ia lalu melanjutkan dengan kritik yang lebih luas. "Banjir sinetron meliuk-liuk. Hukum jadi komoditas yang ditransaksikan. Inilah kisah hukum di republik ini ketika sudah menjadi budak, berlutut dalam kendali imperium pemilik angpao," imbuhnya.
Penghianat, katanya, berkeliaran jadi penegak hukum. Mereka tak malu berjualan pasal-pasal dengan harga kesepakatan. Tapi di tengah situasi itu, Sutoyo yakin masih ada sisa-sisa pejuang sejati.
"Di ranah para bandit, walau semuanya amoral, tetap masih tersisa pejuang sejati. Dalam situasi apa pun, petarung sejati akan terus memilih kehormatan hidupnya. Bahkan ketika nasib di ujung tandu dengan segala risikonya," ungkapnya.
Ia punya pesan untuk mereka. Jangan khawatir. Kebenaran, keadilan, dan kejujuran akan menapaki jalannya sendiri. Pasti datang tepat pada waktunya.
"Kemenangan seorang pejuang sejati bukan pada kalah dan menang dengan standar manusia," tutup Sutoyo, "tetapi ada pada posisi istiqomah dengan ridho Allah SWT."
Artikel Terkait
Modus Palsu Catut Nama Pejabat Polda, Katering Yogya Nyaris Terkecoh
Klarifikasi yang Mengaburkan: Saat Kritikus Berbalik Memuji Kekuasaan
Sempadan Sungai: Sertifikat Sah di Tangan, Aturan Gusur Menganga
Trump dan Ambisi Greenland: Dunia Menyaksikan Kembalinya Hukum Rimba?