Ayahnya, Adi Saputra, masih ingat betul percakapan terakhir dengan putri sulungnya itu. Jumat malam, 16 Januari. Hanya beberapa jam sebelum pesawat lepas landas. Ada yang aneh. Esther tiba-tiba meminta maaf.
"Terakhir komunikasi malam Sabtu. Dia minta maaf kalau ada salah. Biasanya nggak begitu," ungkap Adi.
Bagi keluarganya, Esther adalah anak yang baik hati dan perhatian. Tak banyak menuntut. Sudah hampir tujuh tahun ia mengabdikan diri sebagai pramugari, menjadi tulang punggung sebagai anak pertama dari tiga bersaudara.
Ibunya, J. Siburian, juga teringat. Esther sempat mengabari bahwa dia sedang berada di Yogyakarta sebelum penerbangan menuju Makassar. Itu pesan biasa, yang kini terasa sangat luar biasa.
Kini, meski barang-barang pribadi putrinya seperti buku harian dan dompet telah ditemukan, Adi tak menyerah. Harapannya masih menyala.
"Saya berharap mukjizat Tuhan masih ada," katanya dengan keyakinan yang terdengar jelas. "Selama kami belum melihat Esther, mukjizat itu pasti masih ada."
Barang-barang pribadi Esther kini disimpan di posko utama untuk didata dan diselidiki. Di lereng Bulusaraung, pencarian terus berlanjut. Tim gabungan berjuang menembus medan terjal, berharap bisa membawa pulang semua yang masih hilang.
Artikel Terkait
Kotak Hitam ATR 42-500 Ditemukan Utuh di Lereng Bulusaraung
Farhat Abbas Beri Gelar Termul Baru untuk Eggi Sudjana Usai Dukung Keaslian Ijazah Jokowi
Pramugari ATR 42-500 Akhirnya Teridentifikasi Setelah Ditemukan di Jurang Bulusaraung
Keluarga Bawa Pulang Jenazah Pramugari dari Tebing 500 Meter di Pangkep