Eksodus Massal di Sihanoukville Usai Sang Raja Scam Dideportasi

- Rabu, 21 Januari 2026 | 08:54 WIB
Eksodus Massal di Sihanoukville Usai Sang Raja Scam Dideportasi

Skala industri scam di Kamboja memang mencengangkan. Laporan Amnesty Internasional pada 2025 menyebutkan, dari 53 lokasi scam yang teridentifikasi di seluruh negeri, 22 di antaranya berkumpul di Sihanoukville. Sementara itu, badan PBB yang mengawasi narkotika dan kriminalitas mencatat kerugian akibat bisnis ini mencapai $37 juta pada 2023, dengan tenaga kerja yang terlibat diperkirakan mencapai 100.000 orang.

Komitmen atau Sandiwara?

Pemerintah Kamboja, di bawah Perdana Menteri Hun Manet, berkeras menunjukkan komitmennya.

"Kita akan menghabisi semua masalah yang terkait dengan kejahatan siber dan scam," tegas Hun Manet.

Klaimnya didukung angka: 118 lokasi digerebek dan 5.000 orang ditangkap dalam enam bulan terakhir. Pasca deportasi Chen Zi, pengawasan terhadap Prince Group dan anak perusahaannya diperketat. Aset Prince Bank dilikuidasi, penjualan properti grup itu dibekukan.

Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang terasa janggal. Kecurigaan mengemuka karena ratusan pekerja itu sudah pergi sebelum penggerebekan besar-besaran terjadi. Seolah mereka mendapat peringatan lebih dulu.

"Sepertinya, operasi penggerebekan bocor," curiga seorang warga di lokasi.

Kecurigaan serupa diungkapkan Mark Taylor, mantan kepala lembaga non-pemerintah di Kamboja yang memantau perdagangan manusia.

"Ada suatu perubahan yang janggal di pusat-pusat scam ini sebelum penggerebekan," ujarnya. "Para pekerja dan manajernya rasanya sudah siap menghadapi aparat."

Menurut Taylor, ini mengindikasikan kolusi. Sebuah strategi ganda yang licik.

"Satu sisi meningkatkan upaya pemerintah memerangi kriminal, sementara di sisi lain menjaga industri scamming untuk bertahan dan beradaptasi," pungkasnya.


Halaman:

Komentar