Di tengah lawatannya ke Inggris, Presiden Prabowo Subianto berbicara panjang lebar soal strategi pendidikan Indonesia. Fokusnya jelas: memutus rantai kemiskinan. Caranya? Salah satunya lewat program sekolah berasrama yang dikhususkan untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Gagasan ini ia sampaikan di hadapan para akademisi dan perwakilan universitas ternama Inggris. Acara bertajuk UK-Indonesia Education Roundtable itu digelar di Lancaster House, London, pada Selasa (20/1). Suasana ruangannya klasik, cocok untuk pembicaraan serius tentang masa depan.
“Saya rasa ini satu-satunya cara untuk memutus apa yang saya sebut, dan yang saya dengar dari para ahli, sebagai lingkaran kemiskinan,” ujar Prabowo tegas.
Menurutnya, program itu sudah berjalan. Hingga saat ini, pemerintah telah membangun dan mengoperasikan 166 sekolah berasrama. Angka itu belum final. Rencananya, akan ada juga sekolah berasrama untuk siswa berprestasi akademik tinggi, plus sekolah terpadu yang ditujukan untuk kalangan menengah.
“Mungkin mereka bukan yang berprestasi akademis terbaik, tetapi mereka tidak berasal dari keluarga yang sangat miskin. Jadi, inilah program yang saya rencanakan,” katanya lagi, merinci target kebijakannya.
Namun begitu, pembangunan fisik sekolah saja tidak cukup. Prabowo menekankan bahwa teknologi punya peran krusial. Pemerintah berupaya memperluas pengajaran digital jarak jauh ke seluruh penjuru negeri, termasuk daerah yang paling terpencil sekalipun. Ini dianggapnya sebagai langkah lompat katak untuk mengejar ketertinggalan.
“Jadi semua sekolah di daerah terpencil akan memiliki akses ke guru-guru terbaik di semua mata pelajaran. Ini adalah cara bagi kita untuk melompat maju karena kita sebenarnya jauh tertinggal dalam standar pendidikan kita. Kami mengakui hal ini,” terangnya tanpa basa-basi.
Bagi Prabowo, semua upaya ini bermuara pada satu keyakinan mendasar. Ia melihat pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, tapi pondasi bangsa.
“Saya yakin bahwa pendidikan adalah kunci keberhasilan suatu bangsa. Untuk menjadi bangsa yang sukses, kita harus memiliki pendidikan terbaik yang dapat dicapai. Itulah keyakinan saya,” ucapnya.
Di abad ke-21 ini, yang ia sebut sebagai era ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan ditempatkan sebagai instrumen utama. Bukan cuma untuk mencetak tenaga kerja, tapi lebih dari itu: alat untuk menciptakan keadilan dan mengikis kemiskinan.
“Untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan setara, instrumen tercepat adalah pendidikan dan layanan kesehatan, dan keduanya saling terkait. Karena untuk mewujudkan keduanya, kita membutuhkan sumber daya manusia terbaik,” tandas dia, menutup paparannya.
Pesan yang ia bawa dari London tampaknya sederhana: investasi terbesar negeri ini harus ditanamkan pada manusia, dimulai dari ruang kelas.
Artikel Terkait
Polri-FBI Bongkar Sindikat Phishing Global, Kerugian Capai Rp350 Miliar
Pelaku Tabrak Lari Tewaskan Pengacara di Cianjur Ditangkap di Bogor
Chelsea Pecat Liam Rosenior Usai Hanya Tiga Bulan Melatih
Guru Besar Unhan Tegaskan Modernisasi Pertahanan Indonesia Sudah Jadi Kebutuhan Mutlak