Logikanya sederhana: barang mahal harus balik modal. Ujung-ujungnya, biaya itu dibebankan ke pasien.
Nah, menariknya, pola yang hampir identik terjadi di dunia penerbangan domestik.
Suku cadang pesawat? Mayoritas impor. Bahan bakar avtur di dalam negeri? Dikenakan pajak. Tiket pesawat domestik? Kena PPN. Sementara, banyak negara tidak mengenakan PPN untuk tiket penerbangan internasional. Makanya, nggak heran kalau terbang ke luar negeri kadang justru lebih murah daripada terbang ke kota lain di dalam negeri sendiri.
Di titik ini, kita harus berhenti sejenak. Lalu bertanya.
Ini murni soal efisiensi maskapai dan rumah sakit, atau sebenarnya ada desain kebijakan tertentu yang tanpa sadar membuat layanan dasar jadi semahal ini?
Ambil contoh negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura. Mereka umumnya memberi perlakuan pajak yang lebih ringan untuk sektor strategis seperti kesehatan dan transportasi udara. Tujuannya jelas: mempermudah akses masyarakat. Mobilitas dan kesehatan dianggap kebutuhan pokok, bukan komoditas mewah.
Dampaknya terasa sekali di lapangan. Saya sering menjumpai pasien yang menunda kontrol karena terbebani biaya. Ada keluarga yang mengurungkan niat rujukan karena ongkos perjalanannya selangit. Mirip sekali dengan orang yang memilih rute penerbangan berputar-putar demi harga yang lebih manusiawi. Ini bukan soal gaya hidup, ini soal bertahan hidup.
Di Indonesia, kita punya aturan tarif batas atas dan batas bawah untuk tiket pesawat. Secara teori, ini bagus untuk melindungi konsumen. Namun begitu, dalam praktiknya, ketika biaya operasional sudah tinggi dan ruang gerak maskapai dipersempit, kebijakan ini justru bisa membuat harga sulit turun secara wajar.
Pelajaran utamanya jelas. Ketika pajak, bea masuk, dan regulasi dibebankan secara bertumpuk pada sektor-sektor penting, hasilnya cuma satu: harga akhir melambung. Mau itu tiket pesawat, mau itu biaya berobat. Dan pada akhirnya, yang menanggung beban paling berat adalah masyarakat biasa.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti saling menyalahkan di permukaan. Maskapai, rumah sakit, dokter semuanya bergerak dalam ekosistem yang sama. Kalau kita ingin tiket pesawat lebih terjangkau dan layanan kesehatan lebih merakyat, maka kebijakan di hululah yang harus dikoreksi.
Kalau tidak, kita akan terus hidup di negara yang aneh: pergi berobat terasa seperti naik pesawat mahal, dan naik pesawat mahal bikin sakit kepala duluan sebelum sampai tujuan.
EPW 21/1/2026
Artikel Terkait
Indonesia Angkat Bicara Soal Peran dalam Inisiatif Perdamaian Gaza Pimpinan AS
Trump Bentuk Dewan Perdamaian Gaza, Anggota Ditarik Rp 16 Triliun per Negara
Buronan Pembunuh Sadis Rumania Ditangkap di Bali Setelah Sembunyi Lewat Pernikahan Siri
IKN: Dukungan Penuh, Tapi Kapan Pindahnya?