Angklung di Persimpangan Medan: Senyum, Receh, dan Ketakutan Ditangkap Satpol PP

- Rabu, 21 Januari 2026 | 07:18 WIB
Angklung di Persimpangan Medan: Senyum, Receh, dan Ketakutan Ditangkap Satpol PP

Di tengah deru mesin dan panasnya siang di sebuah persimpangan Medan, suara angklung tiba-tiba menyela. Nadanya sederhana, tapi cukup untuk mengusir penat sejenak bagi para pengendara yang terpaksa berhenti di lampu merah.

Namun, alunan musik itu tak berlangsung lama. Begitu lampu hijau hampir menyala, Haris Simanjuntak (40), pemain angklung itu, segera beraksi. Ia mengitari mobil dan motor, menengadahkan tangan dengan senyum. Imbalannya? Sekadar uang receh, seikhlasnya, sebagai balasan atas hiburan kecil di tengah kesibukan kota.

Banyak yang memberinya. Mungkin karena simpati, atau mungkin karena ia memang memainkan alat musik itu dengan cukup indah.

“Awalnya nyawer-nyawer dulu. Ikut gabung, nyawer-nyawer. Terus saya lihat, saya belajar,” kenang Haris saat kami ngobrol di pinggir jalan, Selasa (20/1) lalu.

Sebelum pulang kampung ke Medan, pria ini sudah empat tahun mengadu nasib di Jakarta, tepatnya sejak 2018. Di sanalah ia belajar angklung secara otodidak, hanya dengan mengamati pemain lain. Menurutnya, memainkan angklung itu seperti main gitar kalau sudah hapal kuncinya.

“Kalau kita niat, enggak susah mainkan angklungnya. Tapi, kalau kita hanya iseng saja susah,” ucapnya.

Ia biasanya tampil bersama ayah angkatnya yang memukul drum kecil. Kolaborasi sederhana itu menghasilkan irama yang padu dan enak didengar, mengundang perhatian.

Haris, warga Jalan Brigjen Katamso yang masih lajang ini, baru mulai mangkal di persimpangan dan kawasan Kesawan sejak tahun 2025. Setiap hari, ia harus menyewa angklungnya seharga Rp 50.000. Hasil sawerannya bisa mencapai Rp 150.000, meski jumlahnya tak menentu.


Halaman:

Komentar