“Masalah itu tergantung rezekinya. Kena panas matahari, namanya kita berusaha,” ujarnya sambil mengelap keringat.
Jadwalnya padat. Selain di lampu merah, ia juga main di Kesawan dan setiap Minggu di Car Free Day Lapangan Merdeka. “Dari Zuhur sampai mau masuk Magrib baru selesai. Hari Selasa atau Kamis, kami istirahat,” imbuhnya. Kadang, ada juga undangan main di acara wisuda atau pengajian.
Di balik alunan merdu itu, ternyata ada ketakutan yang selalu menghantui. Haris takut ditangkap oleh dinas sosial atau Satpol PP.
“Sekarang di Medan, angklung ini kan musik. Bahkan di uang logam Rp 1.000 ada gambar angklung, tapi kenapa harus ditangcap. Di mana letak titik kesalahannya, seharusnya mereka itu melindungi,” protesnya dengan nada kesal.
“Asal kami nampak dinas sosial dan Satpol PP, lari. Karena sudah tertangkap kemarin teman saya. Bahkan angklungnya enggak keluar sampai sekarang (ditahan),” sambungnya.
Haris punya harapan sederhana. Ia ingin Pemerintah Kota Medan memberinya ruang, setidaknya mengizinkannya memperkenalkan musik tradisional ini.
“Kami mohon diperbolehkan main di lampu merah. Biar masyarakat Medan ini mengetahui angklung, ini kan kesenian. Kalau diharuskan memakai seragam, kita ada seragam,” tutupnya sebelum kembali menyeberang, menunggu lampu merah berikutnya untuk kembali memainkan angklungnya.
Artikel Terkait
Buronan Pembunuh Sadis Rumania Ditangkap di Bali Setelah Sembunyi Lewat Pernikahan Siri
IKN: Dukungan Penuh, Tapi Kapan Pindahnya?
Prabowo dan Starmer Sepakati Kemitraan Baru, Inggris Siap Bangun 1.500 Kapal Ikan untuk Indonesia
BPOM Beri Nilai A+ untuk Dapur Gizi Polri Cipinang