Warga Siap Gugat, Demonstrasi Berlanjut
Di tingkat akar rumput, penolakan tak kalah keras. Mark Nygate, ketua asosiasi warga sekitar, bersikap vokal.
“Para warga bertekad terus memperjuangkan penolakan terhadap keputusan hari ini,” ucap Nygate dengan nada tegas.
Kontroversi sebenarnya sudah berlangsung berbulan-bulan. Menurut sejumlah laporan, kompleks ini akan dilengkapi ratusan ruang bawah tanah termasuk sebuah “ruang tersembunyi” dan dibangun dekat jalur kabel internet vital. Banyak aktivis khawatir, tempat ini nantinya bisa jadi pusat pengawasan dan tekanan bagi para pembangkang China di perantauan.
Semangat penolakan itu masih terasa hangat. Baru akhir pekan lalu, ratusan orang kembali memadati area sekitar lokasi proyek untuk berunjuk rasa. Seorang demonstran asal Hong Kong, Brandon, terlihat cemas.
“Saya rasa ini tidak baik bagi siapa pun kecuali pemerintah China,” keluhnya.
Sementara Clara, demonstran lain, menyuarakan ketakutannya secara blak-blakan. “Saya benar-benar takut dengan represi lintas negara yang bisa dilakukan China,” katanya.
Jadi, meski izinnya sudah di tangan, jalan proyek mega-kedubes ini belum sepenuhnya mulus. Ancaman gugatan hukum masih menganga. Banyak yang memandang, keputusan hari ini bukan cuma soal sebidang tanah, tapi tentang keamanan dan arah hubungan diplomatik Inggris di masa depan.
Artikel Terkait
Gaji Sopir MBG Lebih Tinggi, Guru Honorer: Miris Hati Saya
Bupati Pati Dijerat Dua Kasus Korupsi, Nilainya Capai Miliaran Rupiah
Duel Gladiator Pelajar Berujung Patah Tulang di Sindangbarang
Makan Bergizi Gratis: Antara Harapan di Pesantren dan Bayang-bayang Keracunan