Kedubes Raksasa China di London Akhirnya Dapat Izin, Kontroversi Tak Padam

- Selasa, 20 Januari 2026 | 20:30 WIB
Kedubes Raksasa China di London Akhirnya Dapat Izin, Kontroversi Tak Padam

Setelah perjalanan panjang hampir delapan tahun, akhirnya pemerintah Inggris memberi lampu hijau. Rencana China membangun kompleks kedutaan besar raksasa di jantung bersejarah London resmi disetujui Selasa lalu. Padahal, proyek ini tak lepas dari gelombang penolakan. Warga setempat, anggota parlemen, hingga kelompok HAM banyak yang menentangnya.

Izin itu datang dari Menteri Perumahan Steve Reed. Proyek yang sempat mangkrak berkali-kali karena isu keamanan nasional ini, katanya, sudah final. Kecuali, tentu saja, ada yang berhasil menggugatnya di pengadilan.

“Keputusan ini sekarang final kecuali berhasil ditantang di pengadilan,” tegas Reed.

Luasnya sekitar 20 ribu meter persegi. Begitu jadi, gedung itu bakal menjadi kedutaan terbesar di Inggris, dan salah satu yang paling megah di ibu kota negara Barat mana pun. Sebuah pernyataan prestise di tanah orang.

Pemerintah Inggris berusaha meredam kekhawatiran. Mereka bilang, badan intelijen sudah dilibatkan sejak awal. Setelah negosiasi alot, China setuju menggabungkan tujuh kantor diplomatiknya di London jadi satu lokasi. Menurut juru bicara pemerintah, konsolidasi ini justru memberi “keuntungan keamanan yang jelas.”

Namun begitu, argumen itu tidak memuaskan semua pihak. Kritik langsung meluncur dari sejumlah politisi. Iain Duncan Smith, anggota parlemen dari Partai Konservatif, tidak menyembunyikan kekecewaannya.

“Ini keputusan yang mengerikan yang mengabaikan kebrutalan Partai Komunis China,” sindirnya.

Dia melanjutkan, “Mereka melakukan kerja paksa di dalam negeri, memata-matai Inggris, dan menggunakan serangan siber untuk merusak keamanan kami.”

Warga Siap Gugat, Demonstrasi Berlanjut

Di tingkat akar rumput, penolakan tak kalah keras. Mark Nygate, ketua asosiasi warga sekitar, bersikap vokal.

“Para warga bertekad terus memperjuangkan penolakan terhadap keputusan hari ini,” ucap Nygate dengan nada tegas.

Kontroversi sebenarnya sudah berlangsung berbulan-bulan. Menurut sejumlah laporan, kompleks ini akan dilengkapi ratusan ruang bawah tanah termasuk sebuah “ruang tersembunyi” dan dibangun dekat jalur kabel internet vital. Banyak aktivis khawatir, tempat ini nantinya bisa jadi pusat pengawasan dan tekanan bagi para pembangkang China di perantauan.

Semangat penolakan itu masih terasa hangat. Baru akhir pekan lalu, ratusan orang kembali memadati area sekitar lokasi proyek untuk berunjuk rasa. Seorang demonstran asal Hong Kong, Brandon, terlihat cemas.

“Saya rasa ini tidak baik bagi siapa pun kecuali pemerintah China,” keluhnya.

Sementara Clara, demonstran lain, menyuarakan ketakutannya secara blak-blakan. “Saya benar-benar takut dengan represi lintas negara yang bisa dilakukan China,” katanya.

Jadi, meski izinnya sudah di tangan, jalan proyek mega-kedubes ini belum sepenuhnya mulus. Ancaman gugatan hukum masih menganga. Banyak yang memandang, keputusan hari ini bukan cuma soal sebidang tanah, tapi tentang keamanan dan arah hubungan diplomatik Inggris di masa depan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar