Setelah perjalanan panjang hampir delapan tahun, akhirnya pemerintah Inggris memberi lampu hijau. Rencana China membangun kompleks kedutaan besar raksasa di jantung bersejarah London resmi disetujui Selasa lalu. Padahal, proyek ini tak lepas dari gelombang penolakan. Warga setempat, anggota parlemen, hingga kelompok HAM banyak yang menentangnya.
Izin itu datang dari Menteri Perumahan Steve Reed. Proyek yang sempat mangkrak berkali-kali karena isu keamanan nasional ini, katanya, sudah final. Kecuali, tentu saja, ada yang berhasil menggugatnya di pengadilan.
“Keputusan ini sekarang final kecuali berhasil ditantang di pengadilan,” tegas Reed.
Luasnya sekitar 20 ribu meter persegi. Begitu jadi, gedung itu bakal menjadi kedutaan terbesar di Inggris, dan salah satu yang paling megah di ibu kota negara Barat mana pun. Sebuah pernyataan prestise di tanah orang.
Pemerintah Inggris berusaha meredam kekhawatiran. Mereka bilang, badan intelijen sudah dilibatkan sejak awal. Setelah negosiasi alot, China setuju menggabungkan tujuh kantor diplomatiknya di London jadi satu lokasi. Menurut juru bicara pemerintah, konsolidasi ini justru memberi “keuntungan keamanan yang jelas.”
Namun begitu, argumen itu tidak memuaskan semua pihak. Kritik langsung meluncur dari sejumlah politisi. Iain Duncan Smith, anggota parlemen dari Partai Konservatif, tidak menyembunyikan kekecewaannya.
“Ini keputusan yang mengerikan yang mengabaikan kebrutalan Partai Komunis China,” sindirnya.
Dia melanjutkan, “Mereka melakukan kerja paksa di dalam negeri, memata-matai Inggris, dan menggunakan serangan siber untuk merusak keamanan kami.”
Artikel Terkait
Malam Kelabu di Tebing Bulusaraung: Tim SAR Tidur Bersama Jenazah Korban ATR 42
Wamen Agus Jabo Beri Tenggat: Lahan Sekolah Rakyat di Padang Lawas Utara Harus Segera Siap
Inggris Pelajari Larangan Media Sosial untuk Anak, Terinspirasi dari Australia
Menteri Prasetyo Prihatin, Lagi-lagi Kepala Daerah Terjaring OTT KPK