Di Balik Angka 5 Persen: Mungkinkah Pertumbuhan Ekonomi Hanya Rekayasa Statistik?

- Selasa, 20 Januari 2026 | 16:50 WIB
Di Balik Angka 5 Persen: Mungkinkah Pertumbuhan Ekonomi Hanya Rekayasa Statistik?
Opini Ekonomi

Membongkar Konstruksi Pertumbuhan Ekonomi: Sebuah Operasi Statistik?

Oleh: Anthony Budiawan
Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies)

Pernahkah terpikir, bagaimana sebuah angka pertumbuhan ekonomi ditetapkan? Pekan lalu, lembaga kami, PEPS, merilis analisis bertajuk "Indonesia: Growth Without Prosperity". Temuannya cukup mencengangkan. Periode 2019-2024, angka pertumbuhan riil terlihat stabil di kisaran 5 persen kecuali tahun 2020 yang memang anomali. Namun, di saat yang sama, kelas menengah justru menyusut. Yang rentan miskin malah bertambah.

Logikanya, fakta seperti itu hanya mungkin terjadi dalam beberapa skenario. Pertama, pertumbuhan ekonomi sebenarnya di bawah 5 persen. Kedua, pertumbuhan yang ada hanya dinikmati segelintir orang di kelas atas yang jumlahnya cuma naik 0,02 persen atau sekitar 56 ribu jiwa. Atau ketiga, kombinasi keduanya: pertumbuhan rendah dan terpusat.

Intinya, ada kemungkinan angka 5 persen itu overstated. Terlalu tinggi. Tapi, benarkah mungkin? Sebelum menjawab, mari kita telusuri dulu bagaimana sebenarnya angka pertumbuhan ekonomi riil itu dihitung.

Dalam statistik resmi, ekonomi biasanya dibedakan menjadi dua: berdasarkan harga berlaku dan harga konstan (riil). Ekonomi harga berlaku mencerminkan semua transaksi yang tercatat dalam national account. Ini data mentahnya, satu-satunya rujukan primer yang dimiliki pemerintah.

Masalahnya, angka nominal ini tak bisa jadi patuhan pertumbuhan. Ia sudah "terkontaminasi" kenaikan harga. Maka, yang dipakai sebagai acuan adalah ekonomi harga konstan. Angka ini dianggap steril dari inflasi, murni mencerminkan kuantitas.

Nah, di sinilah persoalan muncul. Pemerintah sejatinya tidak punya data ekonomi harga konstan. Yang ada cuma data nominal. Lalu bagaimana? Di sinilah peran biro statistik menjadi krusial.

Untuk mendapatkan angka riil, pemerintah harus memperkirakan kenaikan harga untuk setiap kelompok rumah tangga, pemerintah, investasi, hingga ekspor-impor. Estimasi kenaikan harga dalam produk domestik bruto ini disebut deflator. Perlu dicatat, deflator dan inflasi itu dua hal yang berbeda.

Konversinya kira-kira seperti ini: ekonomi riil sama dengan ekonomi nominal dikurangi deflator. Rumus sederhananya: Ekonomi Riil ≈ Ekonomi Nominal – Deflator.

Dari sini terlihat jelas, ekonomi riil sebenarnya adalah residu. Ia hasil dari penetapan dua variabel lain: ekonomi nominal dan deflator. Keduanya ditetapkan lewat proses statistik survei produksi, konsumsi, dan harga. Jika sampling dan survei dilakukan secara profesional, hasilnya bisa dipertanggungjawabkan.

Namun begitu, persamaan itu juga membuka celah. Celah untuk menetapkan pertumbuhan ekonomi riil di luar model statistik murni. Mungkin saja, secara politis.

Bayangkan, realisasi pertumbuhan riil ditarget harus capai 5 persen. Tapi kenyataannya, pertumbuhan nominal cuma 4 persen. Secara matematis, mustahil angka riilnya mencapai 5 persen.

Tapi dengan operasi statistik, "keajaiban" bisa terjadi. Pertama, biro statistik bisa menaikkan angka pertumbuhan nominal dari 4 persen jadi, misalnya, 6 persen. Lalu, deflator ditetapkan sangat rendah, sekitar 1 persen. Maka jadilah: 6% – 1% = 5%. Target pun tercapai.

Lalu, kemana perginya kelebihan produksi 6 persen yang artifisial itu? Ia tidak terserap konsumsi. Akhirnya, ia mengendap dalam kategori "diskrepansi statistik".

Nah, yang menarik, nilai diskrepansi statistik pada 2022 dan 2023 ternyata sangat besar. Mencapai sekitar Rp1.170 triliun angka yang hampir menyamai konsumsi pemerintah yang hanya Rp1.500 triliun. Besaran yang tidak normal.

Pertanyaannya, apakah ini indikasi operasi statistik? Apakah pertumbuhan produksi nominal sengaja digelembungkan (inflated) lalu "disembunyikan" dalam diskrepansi statistik?

Pembahasan kita belum selesai. Dalam tulisan berikutnya, kita akan mengupas lebih dalam soal deflator variabel kunci konversi nominal ke riil dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan analisis awal terhadap deflator, ada indikasi pertumbuhan ekonomi 2024 mungkin overstated antara 1,0 hingga 1,6 persen. Mungkinkah? Kita akan lihat.

20 Januari 2026

- 000 -

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar