Di sisi lain, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) punya penjelasan lain. Mereka menyatakan petugas sedang menyelidiki dua pelaku kejahatan seksual yang dihukum, yang alamatnya ternyata sama dengan rumah Scott. Operasi itu, kata mereka, adalah prosedur standar.
Juru bicara DHS, Tricia McLaughlin, menegaskan bahwa Scott awalnya diduga sebagai salah satu target. "Protokolnya mengharuskan kami menahan semua individu di lokasi operasi, demi keselamatan publik dan petugas," begitu kira-kira isi pernyataannya.
Menurut DHS, penahanan terjadi karena Thao menolak untuk diambil sidik jari atau diidentifikasi wajahnya. Namun begitu prosedur itu selesai dilakukan di dalam mobil, ia pun langsung dibebaskan.
Cerita Scott ini punya latar yang panjang. Pria ini sebenarnya adalah warga AS yang dinaturalisasi. Orang tuanya membawanya mengungsi dari Laos pada 1974, saat usianya baru empat tahun. Ia resmi menjadi warga negara pada 1991. Kini, setelah puluhan tahun membangun kehidupan, ia justru diperlakukan seperti penjahat di depan mata keluarganya sendiri. Pengalaman yang, baginya, tak mudah dilupakan.
Artikel Terkait
Guru Honorer Jambi Jadi Tersangka Usai Tampar Murid yang Makinya
Abu Dhabi Bantah Keras Tuduhan Gudang Senjata dan Penjara Rahasia di Yaman
MK Tegaskan Jalan Polisi Aktif Duduki Jabatan Sipil Tetap Terbuka
Istana Sampaikan Duka, Pesawat ATR 42-500 KKP Jatuh di Lereng Bulusaraung