Di Balik Janji SDGs: Ijazah Tak Jamin Masa Depan Anak Muda NTT

- Selasa, 20 Januari 2026 | 15:00 WIB
Di Balik Janji SDGs: Ijazah Tak Jamin Masa Depan Anak Muda NTT

Lalu, apa akar masalahnya? Menurut sejumlah analisis, salah satu penyebab utamanya adalah minimnya investasi produktif. Infrastruktur yang terbatas, akses pasar sempit, plus biaya logistik yang tinggi, membuat NTT kurang menarik bagi industri dan usaha berskala besar. Imbasnya, peluang kerja baru yang tercipta pun sangat sedikit.

Masalah lain adalah soal ketidakcocokan. Banyak lulusan punya ijazah, tapi keterampilannya nggak nyambung dengan kebutuhan pasar kerja atau potensi ekonomi daerah. Pendidikan dan pelatihan kerap nggak menjawab kebutuhan riil NTT. Alhasil, lulusan kesulitan bersaing, apalagi menciptakan lapangan kerja sendiri.

Padahal, potensi lokalnya sebenarnya besar. Pertanian, perikanan, pariwisata, ekonomi kreatif semua itu punya nilai. Sayangnya, sektor-sektor ini belum dikelola secara optimal. Produk lokal kebanyakan masih dijual mentah, tanpa pengolahan lanjut yang bisa menciptakan nilai tambah dan menyerap lebih banyak tenaga kerja. Tanpa hilirisasi dan penguatan sektor unggulan, pertumbuhan ekonomi akan sulit diterjemahkan jadi lapangan kerja yang luas.

Karena itulah, pendekatan pembangunan yang terlalu fokus pada target SDGs perlu dikritisi. SDGs nggak boleh cuma jadi simbol atau jargon. Kalau fokusnya cuma pada pencapaian indikator, yang terjadi nanti adalah mengabaikan kualitas pekerjaan dan kesejahteraan pekerja itu sendiri. Bisa-bisa angka pertumbuhan ekonomi naik, tapi masyarakat tetap bergelut dengan pengangguran dan pekerjaan yang nggak layak.

Bagi warga NTT, SDGs harusnya jadi alat untuk menjawab persoalan nyata, bukan sekadar tujuan administratif. Yang dibutuhkan bukan cuma laporan keberhasilan, melainkan kebijakan nyata yang membuka lapangan kerja. Tanpa perubahan pendekatan ini, SDGs berisiko kehilangan makna sebenarnya bagi masyarakat, yang justru harusnya jadi subjek utama pembangunan.

Jadi, fokusnya harus bergeser. Dari sekadar mengejar target, menjadi tindakan nyata. Pemerintah daerah perlu mendorong sektor-sektor padat karya yang berbasis potensi lokal, sambil memperkuat rantai nilai dan akses pasar. Bersamaan dengan itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia lewat pendidikan dan pelatihan vokasi yang relevan harus jadi prioritas.

Generasi muda NTT jangan terus ditempatkan sebagai pencari kerja saja. Mereka juga perlu didorong jadi pencipta lapangan kerja. Dukungan untuk UMKM, kewirausahaan, serta kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, dan kampus adalah kuncinya. Agar penciptaan kerja bisa berjalan berkelanjutan.

Pada akhirnya, ukuran sukses pembangunan di NTT bukanlah berapa banyak target SDGs yang tercapai di atas kertas. Melainkan, berapa banyak warga yang akhirnya mendapat pekerjaan layak di tanah kelahirannya sendiri. NTT nggak cuma butuh target SDGs. Yang lebih dibutuhkan adalah kebijakan berani yang berpihak pada kerja nyata. Hanya dengan cara itulah pembangunan bisa benar-benar dirasakan, dan SDGs menemukan maknanya yang sesungguhnya.


Halaman:

Komentar