Dia seperti perempuan yang sedang menunggu. Sebuah diri yang menghilang, menjadi ‘liyan’. Terlihat sepii, tapi sebenarnya tidak sendirian. Setiap kali bergeser, bangku kayu yang lapuk itu berderik. Seolah mengeluh menahan beban usia dan kesunyian.
Mearsault merasa menemukan cermin dirinya pada perempuan itu. Tenang di luar, tapi di dalam kepala pastilah terjadi perdebatan panjang yang tak kunjung usai. Seperti orang yang menggugat segalanya, bahkan eksistensi Yang Maha Kuasa.
“Kau sedang bercakap dengan Tuhan?” tanya Mearsault, mencoba memulai percakapan.
“Bukankah sebagian besar hidup memang begitu?” sahut Mearsault.
Perempuan itu lalu menatapnya. Matanya berbinar. Dagunya terangkat, dan segera Mearsault dibombardir dengan rentetan pertanyaan yang melumat kesadarannya.
Lalu dia diam sejenak. Suasana sore semakin merayap.
Percakapan terputus. Angin sore berhembus lebih kencang, menerbangkan sampah plastik di trotoar. Mearsault hanya bisa mengangguk pelan.
Artikel Terkait
Raymond/Joaquin Singkirkan Unggulan China, Lolos ke Semifinal All England
Jadwal Imsak Palembang 7 Maret 2026 Pukul 04.43 WIB
Camavinga Absen Lawan Celta Vigo karena Sakit Gigi, Daftar Cedera Madrid Panjang
Bahlil Yakin Prabowo Mampu Jadi Penengah Konflik Iran-AS