SBY Peringatkan Dunia: Geopolitik Memanas Bak Jelang Perang Besar

- Senin, 19 Januari 2026 | 22:25 WIB
SBY Peringatkan Dunia: Geopolitik Memanas Bak Jelang Perang Besar

"Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu 'bagai berseru di padang pasir'. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini."

Reaksi dari Kubu Putin

Kekhawatiran SBY sepertinya punya dasar. Dari Moskow, reaksi keras muncul menyusul deklarasi bersama Prancis dan Inggris. Pada Selasa (6/1/2026), kedua negara NATO itu menandatangani deklarasi niat untuk mendirikan pusat militer di Ukraina jika gencatan senjata tercapai.

Viktor Medvedchuk, politikus pro-Kremlin yang diasingkan dari Ukraina, langsung memberi peringatan keras. Ia menyebut langkah itu sebagai provokasi politik berskala besar yang justru bisa memicu Perang Dunia Ketiga.

"Deklarasi niat untuk mengerahkan kontingen multilateral di Ukraina setelah konflik berakhir dapat dilihat sebagai provokasi politik berskala besar... yang pada akhirnya, membawa dunia ke perang dunia ketiga," tulis Medvedchuk, seperti dilaporkan kantor berita Tass.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov juga tak kalah keras. Ia menyebut negara-negara Barat tengah "mengobarkan histeria anti-Rusia" dan mendukung Ukraina hanya untuk terus melawan Rusia, meski mereka sendiri mungkin tidak percaya pada strategi itu.

Deklarasi Paris dan Kekhawatiran Baru

Deklarasi yang ditandatangani Presiden Prancis Emmanuel Macron, PM Inggris Keir Starmer, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky itu memang menuai pro-kontra. Pihak Barat bilang tujuannya mulia: mencegah agresi Rusia di masa depan dan mendukung kedaulatan Ukraina.

Tapi bagi Rusia, ini justru bumerang. Mereka melihatnya sebagai peningkatan risiko konfrontasi langsung dengan NATO. Putin dan sekutunya sudah berulang kali memperingatkan bahwa keterlibatan militer Barat di Ukraina adalah jalan menuju konflik yang lebih luas.

"Setelah gencatan senjata, Inggris dan Prancis akan mendirikan pusat-pusat militer di seluruh Ukraina dan membangun fasilitas terlindungi untuk senjata serta peralatan militer," kata Starmer tentang rencana mereka.

Zelensky menyambut baik. "Ini bukan sekadar kata-kata. Ada isi konkret," ujarnya.

Pertemuan di Paris itu juga dihadiri utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang menegaskan dukungan Trump terhadap protokol keamanan baru untuk Ukraina.

Akarnya: Ekspansi NATO dan Ketakutan Rusia

Konflik ini berakar panjang. NATO, yang awalnya dibentuk untuk menghadapi Uni Soviet, terus berekspansi ke Eropa Timur setelah Uni Soviet runtuh. Bagi Rusia, ini ancaman langsung. Apalagi ketika ada wacana Ukraina negara yang berbatasan langsung bergabung dengan NATO.

Rusia khawatir. Mereka takut sistem pertahanan dan senjata NATO akan ditempatkan tepat di perbatasannya, mempersempit ruang gerak strategis mereka. Ketegangan memuncak dan akhirnya meledak menjadi invasi penuh pada 2022.

Rusia menuntut jaminan Ukraina tidak akan pernah masuk NATO. Sementara AS dan sekutunya bersikukuh setiap negara berhak menentukan aliansinya sendiri. Dan di tengah kebuntuan itu, dunia menyaksikan, sambil merasakan udara yang makin pengap seperti yang dirasakan SBY.


Halaman:

Komentar