Sudah tiga tahun saya mengamati dunia. Dan dinamika global belakangan ini benar-benar bikin deg-degan.
Jujur saja, saya khawatir. Gelisah. Sebagai orang yang puluhan tahun berkutat dengan isu geopolitik, keamanan internasional, dan sejarah perang, naluri saya bilang sesuatu yang buruk bisa terjadi. Bahkan sangat mungkin. Sebuah prahara besar mungkin Perang Dunia Ketiga.
Meski saya yakin kita masih bisa mencegahnya, ruang untuk bertindak itu makin sempit. Hari demi hari.
Kalau kita tilik sejarah, situasi sekarang punya banyak kemiripan dengan masa-masa jelang Perang Dunia I dan II. Lihat saja: munculnya pemimpin-pemimpin dengan mentalitas haus perang, aliansi-aliansi yang saling berhadap-hadapan, lalu perlombaan senjata dan persiapan ekonomi perang yang masif. Geopolitik global lagi panas-panasnya. Yang bikin miris, meski tanda-tanda bahaya sudah jelas terpampang, upaya serius untuk mencegah konflik besar justru tak kunjung datang. Kenapa ya?
Mungkin dunia lagi abai. Atau merasa tak berdaya. Atau, siapa tahu, memang sudah tak mampu lagi mengendalikan arus.
Saya pribadi terus berdoa. Semoga mimpi buruk perang dunia apalagi yang pakai senjata nuklir tak pernah jadi kenyataan. Banyak penelitian bilang, perang total semacam itu bakal bikin dunia hancur lebur. Korban jiwa bisa tembus 5 miliar lebih. Peradaban punah. Harapan musnah.
Tapi doa saja jelas tak cukup. Sekalipun 8,3 miliar penduduk bumi berdoa bersama, Tuhan tak akan serta-merta mengabulkan jika kita sendiri tak mau berusaha menyelamatkan dunia ini.
Untungnya, masih ada secuil harapan. Masih ada waktu, meski sedikit. Dan masih ada cara. Kita harus bicara. Harus bertindak. Saya teringat pesan Edmund Burke dan Albert Einstein intinya sama: kehancuran dunia bukan cuma karena ulah orang jahat, tapi juga karena orang baik memilih diam. Kalau yang baik-baik diam, yang jahatlah yang menang.
Lalu apa yang bisa dilakukan?
Menurut saya, PBB harus ambil inisiatif. Segera gelar Sidang Umum Darurat. Kumpulkan para pemimpin dunia, duduk bersama, cari solusi nyata untuk mencegah krisis global yang lebih parah termasuk potensi perang dunia baru.
Saya sadar, PBB sekarang sering dianggap lemah. Tak berdaya. Tapi jangan sampai sejarah mencatat PBB cuma jadi penonton. Atau malah melakukan pembiaran.
Mungkin seruan ini bakal jadi “suara di padang pasir”. Diabaikan. Tapi siapa tahu? Bisa jadi ini justru jadi titik awal bagi bangsa-bangsa di dunia untuk bangkit, sadar, dan akhirnya bergerak menyelamatkan planet yang kita cintai ini. Prinsipnya sederhana: if there is a will, there is a way.
SBY
Artikel Terkait
Handphone di Saku Mayat Pria di Kebun Jagung Jombang Jadi Petunjuk Utama
Saksi Ungkap Permintaan Uang Rp3 Miliar dari Eks Wamenaker Noel di Sidang
Polisi Gagalkan Penjualan Ilegal 200 Tabung Elpiji Bersubsidi di Blora
Baleg DPR Gelar Rapat Final RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga