Di sisi lain, keterlibatan Kokuo dalam memberdayakan penyandang disabilitas punya latar belakang yang menarik. Menurut perwakilan mereka, Danny Boy Mahulete atau yang akrab disapa Debo, ini berawal dari kepedulian sang pendiri.
"Awalnya kami melihat bahwa bantuan tidak cukup hanya berupa donasi uang," jelas Debo.
"Yang lebih penting adalah membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, dan memberikan kail bukan ikan semata. Dari situlah kami merekrut teman-teman disabilitas untuk bergabung dan dilatih menjadi terapis yang andal."
Tak cuma soal teknik pijat, mereka juga berkomitmen memberikan pelatihan lanjutan. Misalnya public speaking, penguatan kemandirian, sampai pembentukan karakter dan pengelolaan emosi. Harapannya, para binaan Kementerian Sosial ini bisa terus berkembang, baik di Kokuo maupun di tempat kerja lain.
Kisah Andry ini, sederhananya, menunjukkan sesuatu yang penting. Dengan dukungan pelatihan yang tepat dan kolaborasi yang solid antara pemerintah dan swasta, penyandang disabilitas bisa mandiri dan berkontribusi nyata. Mereka bukan sekadar penerima bantuan, tapi sumber daya yang berharga.
Artikel Terkait
Tiga Penerbangan Modifikasi Cuaca Diterbangkan untuk Tahan Banjir Jakarta
Gerakan Rakyat Resmi Berkibar Jadi Partai, Sahrin Hamid Pimpin Transformasi
Harapan dan Doa di Pondok Bambu untuk Yoga, Korban Hilang Pesawat Maros
Puisi: Arsip Sunyi yang Menyimpan Kekecewaan Publik