Usai SP3, Eggi Sudjana Terbang ke Malaysia. Kuasa Hukum Bela Klien: "Dia Pejuang Lama, Mereka yang Baru Nongol!"
Keberangkatan Eggi Sudjana ke Malaysia ramai jadi perbincangan. Ini terjadi tak lama setelah Polda Metro Jaya mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) untuknya. Statusnya kini sudah bukan tersangka lagi, bebas dari kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik yang menjeratnya sebelumnya.
Sebelumnya, Eggi bersama Damai Lubis diketahui telah bersilaturahmi dengan Presiden Jokowi. Setelah itu, cekal ke luar negeri yang membebaninya pun dicabut. Lalu, dia terbang.
Namun begitu, kuasa hukumnya, Elida Netty, bersikeras bahwa perjalanan itu murni untuk urusan kesehatan. Tak ada agenda lain di baliknya.
"Saya minta kepada semua, jelas Bang Eggi murni sakit. Mohon didoakan, jangan fitnah kami karena sakit,"
tegas Elida pada Jumat lalu, 16 Januari 2026. Suaranya terdengar kesal dengan narasi-narasi yang berkembang.
Dia menyayangkan berbagai tuduhan yang dialamatkan ke kliennya, seperti pengkhianat atau pecundang. Menurut Elida, itu semua sangat tidak adil. Eggi, katanya, sudah bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai aktivis dan pejuang. Sementara banyak yang kini menghujat, justru baru muncul belakangan.
"Katanya penghianat, pecundang. Padahal Bang Eggi bertahun-tahun pejuang dan aktivis. Mereka baru nongol,"
ujarnya dengan nada getir. Elida berharap masyarakat bisa lebih arif dan menghentikan fitnah. Biarkan Eggi, pintanya, fokus pada pengobatan dan pemulihan kesehatannya dengan tenang.
Su&8217;ul Khotimah
Di sisi lain, tanggapan publik di media sosial tak kalah keras. Banyak yang melihat langkah Eggi sebagai bentuk pembelotan.
"Buat apa merasa berjuang paling lama kalo ujungnya berdamai dengan musuh dan menjadi penghianat ? Sebanyak apapun kamu memberikan klarifikasi terhadap pembelotan dan berdamai dengan musuh , tetap tidak akan menggugurkan predikat egy sebagai seorang penghianat." (Ahmad Kirom)
"Mau baru berjuang atau sudah lama… Penghianat tetaplah penghianat…" (Noah Al Gazali Maridin)
Ada juga yang memberi sindiran halus tentang konsistensi. "Lama berjuang tidak sama dengan konsisten berjuang. Yang berjuang belakangan tidak identik dengan kerendahan." (Mudiono Mudi)
"Untuk apa berjuang sampai di tengah jalan, berjuang itu harus sampai akhir baru kesatria, kalau kayak gitu namanya pecundang." (Azzam Akbar)
Kemas Amin membuat analogi sejarah. "Dulu memang pejuang terus berubah jadi penghianat. Pada zaman penjajahan ada yang seperti ini."
Sementara komentar dari Samsudin Samsudin singkat dan padat: "Suul khatimah."
Begitulah. Perjalanan politik seorang Eggi Sudjana sekali lagi memantik perdebatan panjang antara loyalitas dan pilihan pragmatis. Antara pejuang lama dan cap penghianat yang melekat erat.
Artikel Terkait
Lazio Tundukkan Napoli 2-0 di Stadion Maradona
Hoffenheim Hancurkan Harapan Dortmund dengan Kemenangan Dramatis di Menit Akhir
Jakarta LavAni dan Bhayangkara Presisi Pastikan Duel di Final Proliga 2026
Prabowo Serukan Persatuan di Hadapan Ketua DPRD Se-Indonesia untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045