Isra Mi’raj: Titik Balik Spiritual yang Mengguncang Dunia

- Jumat, 16 Januari 2026 | 08:50 WIB
Isra Mi’raj: Titik Balik Spiritual yang Mengguncang Dunia

Lalu datanglah shalat. Lima kali sehari, manusia dipanggil untuk berhenti sejenak. Bukan untuk lari dari dunia, tapi justru untuk mengingat posisinya di dalam dunia. Gagasan yang radikal, bahkan untuk ukuran sekarang. Di era kita yang memuja produktivitas ekstrem, shalat mengajarkan bahwa nilai manusia bukan ditentukan oleh kesibukannya, tapi oleh kesadarannya.

Dalam lintasan sejarah peradaban, shalat kemudian membentuk komunitas yang disiplin sekaligus punya kesadaran sosial. Ia menjadi perekat, penyeimbang kekuasaan, dan pengingat halus bahwa tiada otoritas mutlak selain Yang Maha Kuasa.

Masjid Al-Aqsa dan Visi yang Melampaui Batas

Sering kali luput dibahas, Isra Mi’raj ternyata punya dimensi geopolitik yang kuat. Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa itu bukan tanpa pesan. Ia menegaskan bahwa Islam, sejak awal, bukanlah agama yang bersifat kesukuan atau lokal. Visinya universal.

Yerusalem, sebagai titik temu tradisi Ibrahim, dipilih sebagai simbol kesinambungan risalah langit. Hal ini menunjukkan bahwa isu keadilan, penjajahan, dan kesucian rumah ibadah yang kita anggap isu modern sebenarnya adalah narasi panjang kemanusiaan.

Dunia Sekarang: Krisis Makna di Tengah Gemerlap

Mari kita lihat dunia hari ini. Kita punya segalanya: teknologi canggih, informasi yang mengalir deras. Tapi kita seperti kehilangan arah. Krisis terbesar zaman now bukan krisis energi atau resesi, melainkan krisis makna. Di sinilah pesan Isra Mi’raj kembali menemukan momentumnya.

Peristiwa ini mengajarkan satu hal sederhana: kemajuan tanpa spiritualitas hanya akan melahirkan kehampaan. Kekuatan tanpa nilai berujung pada penindasan. Rasionalitas tanpa iman bisa kehilangan nurani. Isra Mi’raj bukan ajakan menolak modernitas, tapi seruan untuk menyeimbangkannya.

Karena itu, memperingatinya tak boleh cukup dengan upacara dan pidato belaka. Ia menuntut refleksi yang lebih dalam: Sudahkah shalat kita membentuk etika sosial? Apakah spiritualitas kita mendorong pada keadilan? Atau jangan-jangan, iman kita justru jadi alat pembius?

Akhirnya, Kembali ke Bumi

Pada hakikatnya, Isra Mi’raj bukan akhir perjalanan. Ia justru awal dari sebuah tanggung jawab besar. Setelah menyaksikan keagungan langit, Nabi Muhammad ﷺ tidak tinggal di sana. Beliau turun, kembali ke bumi menghadapi penindasan, membangun masyarakat, menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Itulah pelajaran utamanya: spiritualitas sejati selalu berbuah pada aksi nyata.

Di tengah dunia yang bising oleh ambisi dan kuasa, Isra Mi’raj mengingatkan kita untuk sesekali menengadah. Agar langkah di bumi tidak tersesat. Sejarah membuktikan, peradaban yang bertahan bukan yang paling perkasa senjatanya, melainkan yang paling teguh moralnya.

Isra Mi’raj adalah catatan langit yang abadi. Sekarang, terserah pada kita: hanya membacanya sebagai dongeng, atau benar-benar mendengarkan pesannya?.


Halaman:

Komentar