Isra Mi’raj: Sebuah Catatan Langit yang Mengubah Segalanya
Setiap peradaban punya titik baliknya sendiri. Momen-momen simbolik yang tak cuma mengubah sejarah, tapi juga cara kita memandang hidup. Bagi umat Islam, Isra Mi’raj adalah momen semacam itu. Ini lebih dari sekadar kisah spiritual biasa. Ia adalah catatan sejarah yang sarat pesan tentang moral, tentang kemanusiaan, yang relevansinya tak lekang oleh zaman.
Sayangnya, di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba materialistik, peringatan Isra Mi’raj kerap terjebak jadi acara seremonial belaka. Padahal, kalau kita mau menyelami sejarahnya, peristiwa ini justru jadi kritik pedas untuk peradaban yang mulai lupa pada jiwa. Pesannya, justru sekarang ini, sangat kita butuhkan.
Dilanda Duka, Lalu Datanglah Mukjizat
Secara historis, Isra Mi’raj terjadi pada masa kelam yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn tahun kesedihan. Nabi Muhammad ﷺ baru saja kehilangan dua orang terpenting dalam hidupnya: Khadijah, sang istri yang jadi sandaran hati, dan Abu Thalib, paman yang selama ini melindunginya dari tekanan kaum Quraisy. Rasanya, bukan cuma duka personal yang menghantam. Tapi juga krisis besar bagi dakwah yang masih sangat belia.
Kondisi di Makkah waktu itu benar-benar mencekik. Penindasan terhadap kaum lemah makin menjadi, pemboikotan ekonomi berlangsung, bahkan upaya dakwah ke Thaif berakhir dengan lemparan batu dan cemoohan. Dari sudut pandang mana pun, ini adalah fase paling rentan. Semua pintu seakan tertutup rapat-rapat.
Tapi sejarah punya caranya sendiri. Justru ketika segala jalan di bumi tampak buntu, pintu langit terbuka lebar. Isra Mi’raj hadir bagai intervensi Ilahi. Bukan untuk melarikan diri dari realitas, melainkan untuk menguatkan, memberi perspektif baru sebelum kembali menghadapi dunia.
Bukan Mitos, Tapi Peristiwa Sejarah yang Unik
Satu masalah besar dalam membaca Isra Mi’raj adalah kita sering terjebak pada logika positivisme sempit. Banyak energi terkuras debat: apakah ini peristiwa fisik atau batiniah? Rasional atau metaforis? Padahal, sejarah tidak selalu berjalan di rel yang bisa diukur lab.
Dalam tradisi penulisan sejarah klasik, peristiwa-peristiwa besar selalu punya dimensi simbol yang kuat. Isra Mi’raj bekerja di dua ranah sekaligus: ia nyata dalam iman, dan penuh makna bagi peradaban. Peristiwa ini menandai sebuah transisi krusial dari fase bertahan, menuju fase membangun.
Secara kronologis, Isra Mi’raj terjadi sebelum Hijrah. Artinya, sebelum Islam membangun negara dan tatanan sosial di Madinah, fondasi spiritualnya sudah diperkuat lebih dulu. Pelajarannya jelas: peradaban yang agung tak pernah lahir semata dari kekuatan materi, tapi dari keteguhan nilai.
Shalat: Sebuah Revolusi Waktu
Mungkin, keputusan paling monumental dari perjalanan agung itu adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Dari kacamata sejarah, ini benar-benar sebuah revolusi cara pandang terhadap waktu. Masyarakat Arab jahiliyah hidup dalam ritme yang ditentukan oleh dagang, kabilah, dan kekuasaan.
Artikel Terkait
Sudirman Sepi, Warga Jakarta Rebut Trotoar untuk Lari dan Sepeda
Islah Bahrawi Beberkan Cerita Gus Yaqut: Jokowi Bawa Dito ke Arab Saudi Bahas Kuota Tambahan Haji
Remaja Nekat Bobol Rel Stasiun Jatinegara, Barang Bukti Ditinggal di Trotoar
Roy Suryo Tampil Mewah di Polda, Polemik Ijazah Jokowi Kembali Menghangat