Ledakan Bom SMAN 72 Jakarta: Korban, Pemulihan Mental, dan Fakta Terkini

- Senin, 17 November 2025 | 08:36 WIB
Ledakan Bom SMAN 72 Jakarta: Korban, Pemulihan Mental, dan Fakta Terkini

Ledakan bom di SMAN 72 Jakarta masih menyisakan duka mendalam bagi para siswa dan guru. Peristiwa keji ini telah menimbulkan trauma kolektif yang memerlukan penanganan serius dari berbagai pihak.

Hingga tanggal 16 November, tercatat 10 siswa masih menjalani perawatan intensif di beberapa rumah sakit. Rinciannya meliputi lima siswa di RSI Cempaka Putih, tiga siswa di RS Yarsi, satu siswa di RS Polri Kramat Jati, dan satu siswa di RSCM. Sementara itu, jumlah korban yang menjalani rawat jalan mencapai 93 orang.

Fakta Ledakan Bom SMAN 72 Jakarta

Berdasarkan investigasi kepolisian, terungkap bahwa pelaku membawa tujuh unit bom pada hari Jumat (7/11). Dari jumlah tersebut, empat di antaranya berhasil meledak sedangkan tiga lainnya tidak. Lokasi ledakan terjadi di dalam masjid sekolah dan taman baca yang berdekatan dengan bank sampah.

Modus operandi pelaku cukup beragam. Untuk bom yang diledakkan di masjid, pelaku menggunakan remote control sebagai pemicu. Sementara itu, ledakan di taman baca dan area sampah dipicu menggunakan sumbu api konvensional.

Proses Pemulihan Psikologis Korban Ledakan SMAN 72

Kepala SMAN 72 Jakarta, Tetty Helena Tampubolon, mengungkapkan bahwa asesmen psikologis sedang dilakukan secara intensif. Tujuannya untuk memastikan kesiapan mental siswa sebelum kembali mengikuti pembelajaran tatap muka. Selama seminggu terakhir, seluruh aktivitas belajar mengajar dilakukan secara daring.

"Proses pemulihan terus berjalan dengan melibatkan berbagai pihak seperti sekolah, TNI AL, dinas pendidikan provinsi, Kemenkes, Himpsi, dan Kemendikdasmen," jelas Tetty saat ditemui di Kantor Wali Kota Jakarta Utara.

Meski laporan resmi belum diterima, terdapat indikasi positif dimana para siswa mulai menunjukkan kerinduan untuk kembali bersekolah. Namun, keputusan mengenai model pembelajaran selanjutnya akan sangat bergantung pada hasil pemulihan psikologis ini.

Kesiapan Mental Siswa Pasca Ledakan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengkonfirmasi bahwa belum semua siswa SMAN 72 Jakarta siap secara mental untuk kembali belajar di sekolah. Kendati demikian, sebagian besar orang tua telah menyatakan kesiapan mereka untuk mengembalikan anak-anak ke lingkungan sekolah.

"Pembelajaran masih berlangsung daring dan informasi yang saya terima menunjukkan belum seluruh murid siap mental untuk kembali," ujar Mu'ti usai menghadiri Festival Toleransi dan Budaya.

Kemendikdasmen telah melaksanakan program pemulihan trauma secara intensif selama seminggu terakhir. Program ini melibatkan psikolog profesional dan aktivis melalui platform Zoom untuk membantu pemulihan mental siswa dan guru.

Dampak Jangka Panjang Ledakan di SMAN 72

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan dampak tak terduga dari insiden ini. Banyak siswa yang mengajukan permohonan pindah sekolah akibat trauma yang dialami.

"Ini menjadi perhatian serius kami. Saya telah meminta sekolah dan Dinas Pendidikan untuk merumuskan solusi terbaik agar dampaknya tidak berkepanjangan," tegas Pramono.

Pertemuan antara pihak sekolah dan orang tua dijadwalkan pada Senin (17/11) untuk menentukan model pembelajaran selanjutnya, apakah tetap daring atau kembali tatap muka.

Kondisi Terkini Pelaku Ledakan

Pelaku ledakan bom SMAN 72 Jakarta telah dikategorikan sebagai Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH) oleh kepolisian. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengkonfirmasi bahwa pelaku telah sadarkan diri setelah menjalani perawatan intensif.

"ABH kondisi sudah sadar, namun belum dapat dimintai keterangan karena masih dalam masa pemulihan medis," jelas Budi Hermanto.

Situasi di SMAN 72 Jakarta masih terus dipantau secara ketat oleh berbagai pihak untuk memastikan proses pemulihan berjalan optimal dan keamanan seluruh warga sekolah terjamin.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar