Heboh di media sosial bikin pohon randu alas raksasa di Desa Tuksongo, Magelang, tiba-tiba ramai dikunjungi. Padahal, kabarnya pohon berusia ratusan tahun itu sempat mau ditebang. Rencana penebangan yang batal itu justru memancing rasa penasaran banyak orang.
Alamtaro, seorang pengunjung dari Sleman, mengaku sengaja datang karena viralnya berita itu. Tapi bukan cuma itu alasannya.
"Yang pertama ya karena viral. Tapi kami juga sering memantau tempat-tempat yang rodo ada sakralnya," ujarnya, Rabu lalu.
Dia cukup kaget mendengar wacana penebangan. Baginya, pohon itu sudah jadi semacam ikon bagi Tuksongo.
"Ikon wisata kebanggaan sini. Saya sering ke sini," katanya.
Alamtaro juga merasakan ada unsur mistis di sekitar pohon. Namun begitu, ia menegaskan bahwa energi yang dirasakannya justru positif, bukan mengganggu.
Tak hanya dia, Yuwan, pengunjung lain, juga penasaran. Ia menyempatkan diri datang khusus untuk berfoto.
"Ini saya foto-foto buat mengabadikan. Soalnya katanya mau ditebang," tuturnya.
Pohon randu alas itu memang luar biasa. Tingginya menjulang lebih dari 30 meter. Bayangkan, untuk memeluk batangnya, dibutuhkan delapan orang dewasa atau lebih. Sayangnya, kini kondisinya tampak mengering dan tak lagi rimbun.
Di samping pohon yang masih berdiri gagah itu, terlihat tumpukan ranting-ranting besar yang telah dipangkas sejak Senin lalu. Pemangkasan itu jadi babak awal dari rencana yang sebenarnya lebih besar.
Sebelumnya, warga sempat bersepakat untuk menebangnya. Alasannya sederhana: kekhawatiran akan keselamatan. Pohon yang tampak mati itu berdiri persis di samping jalan raya dan lapangan. Tuksongo kan desa wisata, ramai selalu. Bayangkan kalau tiba-tiba tumbang, bisa bahaya.
Kisah pohon ini punya sejarah panjang. Haji Ashari Munhajir (53), warga yang rumahnya tak jauh dari lokasi, bercerita.
"Dulu-dulunya, simbah-simbah saya nanam ini sebagai batas tanah. Tanah pribadi dan tanah bengkok," kenangnya.
Usianya diperkirakan sudah 200 hingga 300 tahun. Menurut Ashari, sejak ia kecil pun pohon itu sudah sebesar itu.
Kepemilikannya sempat berubah-ubah. Sekitar tahun 1990an, pohon ini diwakafkan ke masjid, lalu dijual ke perorangan. Tapi sebagian masyarakat waktu itu mencegah penebangannya, karena dianggap sudah jadi simbol desa. Akhirnya gagal ditebang.
"Sampai sekarang yang punya masyarakat. Tapi posisi tanahnya memang terbagi, separuh milik pribadi, separuh lagi milik desa," beber Ashari.
Kekhawatiran warga nyata adanya. Secara kasat mata, pohon itu kering dan tampak mati. Mereka bahkan sudah menggelar selametan, sebuah tradisi di sana, sebagai permulaan sebelum pemotongan. Semua sudah dikoordinasikan dengan dinas terkait.
Tapi rencana itu terhenti.
"Warga sudah sepakat. Tapi ada LSM yang nelpon Pak Bupati, minta ditunda dulu, disurvei kesehatan pohonnya. Mati beneran atau nggak," jelas Ashari.
Kekhawatirannya konkret. Beberapa kali rantingnya pernah jatuh, merusak atap rumah warga.
"Aktivitas di sini kan padat, desa wisata. Kalau ada wisatawan lewat, khawatir ketiban," tambahnya.
Alhasil, untuk sementara yang dilakukan hanya pemangkasan ranting. Penebangan total ditunda.
"Rencana mau ditebang, dimulai dari ranting dulu. Tapi ya sampai tengah jalan berhenti," katanya.
Sekarang, warga Tuksongo hanya bisa menunggu. Menunggu kajian dari Pemkab Magelang untuk memastikan langkah selanjutnya. Di satu sisi ada ikon dan sejarah, di sisi lain yang utama adalah keselamatan bersama. Mereka berharap ada keputusan yang tepat.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Cuaca Cerah Berawan di Makassar Sepanjang 18 April 2026
Diskominfo Tebing Tinggi Digeledah Polda Sumut Usai OTT Pejabat
Masyarakat Sipil Temui KWI, Soroti Krisis Moral dan Hukum dalam Tata Kelola Negara
Unpad Nonaktifkan Guru Besar Diduga Lakukan Kekerasan Seksual terhadap Mahasiswi Asing