Selama ini, solar Indonesia ibarat penumpang setia kapal asing. Singapura, Malaysia, Thailand mereka jadi rumah singgah kita. Data tahun 2024 menunjukkan impor solar kita mencapai 8,3 juta ton. Tahun 2025 turun, sekitar 5 juta ton, berkat program biodiesel. Lalu 2026? Nol. Angka yang sunyi, tapi dampaknya bakal sangat berisik bagi negara-negara pengekspor itu.
Lalu, apa artinya buat kita, rakyat biasa? Sederhana: antrean solar harusnya jadi kenangan. Truk tak perlu lagi parkir semalaman di SPBU. Petani tak panik saat musim tanam tiba. Nelayan tak perlu bertaruh nasib di pompa bensin. Tentu, distribusi harus tetap dijaga ketat. Subsidi diawasi, praktik nakal disikat. Tapi fondasinya sudah dipasang kokoh. Ini bukan janji kosong, melainkan hasil masak bertahun-tahun.
Memang, soal bensin ceritanya belum final. Pertalite dan Pertamax masih butuh komponen impor. Target bebas impor bensin baru pada 2029, dengan potensi hemat fantastis, Rp250 triliun per tahun. Tapi untuk hari ini, satu bab besar sudah bisa ditutup: bab ketergantungan solar.
Ditambah lagi dengan senjata hijau bernama biodiesel sawit. Program B40 yang berjalan sejak 2025 membuat impor makin menyusut. Petani sawit pun tersenyum. Solar tak lagi sekadar cairan hitam, ia kini jadi simbol kedaulatan energi.
Maka wajar jika kebijakan ini dibaca sebagai pesan politik yang tegas. Pemerintahan ini tak nyaman bergantung. Beras disetop, solar disetop. Kalau ritmenya terus seperti ini, komoditas impor lain patut waswas.
Dulu, solar kita ibarat anak kos yang selalu minta kiriman uang. Sekarang, kita sudah punya rumah dan dapur sendiri. Kompornya besar, bahannya penuh. Jika konsistensi ini dijaga, satu harapan kita bersama: SPBU kembali menjadi tempat mengisi bahan bakar, bukan tempat menguji kesabaran.
(Ketua Satupena Kalbar)
Artikel Terkait
Dua Tersangka Kasus Pembunuhan di TPU Bekasi Ditangkap, Motifnya Utang-Piutang
Isra Mikraj: Antara Keyakinan dan Polemik yang Tak Pernah Usai
Tiang Monorel Rasuna Said Mulai Dibongkar, Dishub Janji Lalu Lintas Tak Tersendat
Islah Bahrawi Buka Suara: Jokowi Larang Yaqut Hadir di Pansus Haji