Suasana di Hotel Triiss, Semarang, Minggu lalu benar-benar tegang. Ruang rapat yang seharusnya jadi tempat berembuk malah mirip arena pertarungan. Simbol 'Gajah' merah partai itu tampak gelisah bukan soal pakan, tapi karena terlalu banyak yang merasa berhak mengendalikannya.
Rakerda DPD PSI Kota Semarang yang diagendakan untuk konsolidasi, nyatanya berubah jadi pertunjukan lain sama sekali. Alih-alih membahas persoalan warga seperti banjir atau kemacetan, yang terjadi justru adalah drama internal yang berlarut-larut. Orkestranya sumbang.
Memang, sejak awal PSI mengusung jargon kuat: DNA Anti-Korupsi dan Anti-Intoleransi. Tapi di tingkat akar rumput, realitanya seringkali berbeda. Gagasan besar itu seolah kalah pamor oleh hal-hal yang lebih duniawi, seperti soal selembar Surat Keputusan.
Prestasi mereka di Pemilu 2024 sebenarnya cukup bagus. Lima kursi di DPRD Kota Semarang adalah modal berharga untuk melangkah lebih jauh menuju 2029. Sayangnya, energi partai ini seperti terkuras untuk hal-hal lain. Jangankan merancang strategi mengatasi rob, soliditas internal saja masih jadi masalah. Kursi yang sudah didapat pun nyaris goyah karena konflik sendiri.
Yang menarik, keributan ini sama sekali bukan karena perdebatan ideologi yang mendalam. Sejujurnya, jargon anti-korupsi dan intoleransi itu lebih mirip standar moral dasar ketimbang sebuah paham yang punya akar filosofis kuat. Tanpa landasan itu, yang mudah muncul adalah pragmatisme. Semua kemudian dibungkus rapi dalam narasi kesetiaan pada satu figur sebuah 'isme' yang lebih mengandalkan titah ketimbang dialektika gagasan.
Hanif Nafilah Rozak, Ketua DPC PSI Semarang Utara, tak menyembunyikan kekecewaannya. Ia menuding ada 'tangan gaib' yang mengubah susunan pengurus di menit-menit terakhir.
"Kami menduga ada sabotase terhadap susunan kepengurusan yang sudah disepakati. Kok setelah SK keluar berubah?"
Protes Hanif didukung 13 DPC lain yang memilih walk out. Pemicunya adalah masuknya kembali nama Melly Pangestu sebagai Sekretaris dalam SK dari Pusat. Di sisi lain, respons dari pimpinan daerah justru terasa lebih kalem, bahkan diplomatis.
Ketua DPD PSI Kota Semarang, Bangkit Mahanantyo, menyikapi gelombang protes ini dengan analogi yang halus.
"Ibarat pohon yang semakin tinggi, maka semakin kuat pula terpaan angin yang dihadapi. Ini dinamika biasa agar PSI semakin besar," ujarnya.
Tapi bagi sejumlah pengamat, 'angin' yang dimaksud itu lebih mirip upaya penjinakan. Agar semua faksi patuh pada instruksi dari atas. Yogo Triyanto dari DPW Jateng menyaksikan sendiri bagaimana energi muda partai ini terkuras untuk gesekan internal, bukan untuk menghadapi partai-partai mapan di luar.
Pada akhirnya, kericuhan di Hotel Triiss ini seperti cermin dari kebingungan identitas. Ketika pragmatisme berkuasa, faksionalisme adalah konsekuensi yang tak terhindarkan. Semua pihak berlomba menunjukkan diri sebagai yang paling loyal pada satu figur, karena itu dianggap tiket utama untuk bertahan. Kritik terhadap kebijakan sang figur pun nyaris tak terdengar.
Kompetisi yang tersisa hanyalah jadi penjaga gawang paling setia sebuah perlombaan untuk mengamankan posisi di panggung yang lebih besar nanti.
Artikel Terkait
Nenek 85 Tahun Penjual Cilok Raih Impian Haji dari Tabungan Receh Harian
Mantan Satpam Bobol Rumah Majikan Usai Dipecat, Rugikan Rp40 Juta
Tiket Ludes H-3, Antusiasme Suporter PSM Makassar Meledak Jelang Laga Kandang
Ibu Korban Peluru Nyasar di Gresik Tangis di Hadapan DPRD Jatim