Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pandeglang, Banten, tiba-tiba jadi sorotan. Bukan karena programnya, tapi karena cara penyajiannya yang dinilai tak pantas. Sebuah video yang beredar di Instagram @PANDEGLANG.TV menunjukkan makanan untuk balita itu dibungkus dengan kantong plastik biasa. Lokasinya di Desa Pasir Padu, Kecamatan Sukaresmi.
Dalam rekaman itu, terdengar suara seorang warga yang merekam. Suaranya terdengar kecewa.
"Ini MBG untuk balita, isinya kayak begini. Ayam, enggak tahu bubur, enggak tahu apa. Mirip muntahan kucing. Baru dibuka nih," ujarnya.
"Ada kelengkeng juga, timun cuma segini," sambungnya.
Ia pun berusaha menjelaskan. Bukan maksudnya tidak bersyukur, tapi kemasannya yang membuatnya geram. "Maaf ya, bukan enggak bersyukur. Tapi masak mau dimakan gini sama kita? Pakai plastik kayak ginian, kayak buat kucing," kata dia sambil menyebut nama seorang pejabat.
Viralnya video itu rupanya berimbas. Sebuah akun TikTok, @sitizubaedah82, mengunggah foto yang memperlihatkan anggota TNI datang ke rumah pemilik video.
"Videonya suruh dihapus, sampai ada TNI ke rumah," tulis akun tersebut.
Lantas, bagaimana penjelasan dari pihak berwenang?
Dimas Dhika Alpiyan, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat, angkat bicara. Menurutnya, sebenarnya prosedur penyaluran sudah sesuai SOP. Makanan disiapkan dan diantarkan menggunakan "ompreng" wadah makanan tradisional dari anyaman bambu yang dilapisi daun kepada para kader Posyandu pada Kamis (8/1).
Masalahnya muncul di lapangan. Menurut Dimas, para kader inilah yang kemudian memindahkan makanan dari "ompreng" ke dalam kantong plastik. Itu dilakukan tanpa koordinasi atau sepengetahuannya.
"Sesudah sampai ke titik pengantaran, diserahkan ke ibu kader. Nah, ibu kader berinisiatif, tanpa sepengetahuan saya, malah dimasukkan ke dalam plastik," jelas Dimas pada Minggu (11/1).
Ia mengaku tak tahu detail alasannya. Tapi dari keterangan kader, itu dilakukan spontan. "Katanya spontan aja karena udah sore datangnya. Spontan akhirnya dimasukkan ke plastik," ujarnya.
Dimas tak menampik bahwa penyajian dalam plastik jelas tidak higienis dan melanggar aturan. "Kalau mau dibawa pulang, harusnya pakai alat makan yang sesuai, seperti mangkok atau piring dari rumah masing-masing," tegasnya. Barulah keesokan harinya pihaknya tahu setelah video itu ramai di media sosial.
Di sisi lain, penjelasan datang juga dari para kader. Lusi, Koordinator Kader Posyandu setempat, mencoba meluruskan. Ia menegaskan makanan itu sebenarnya layak konsumsi.
Alasan pemindahan ke plastik, katanya, murni karena kondisi cuaca saat itu. Mereka khawatir makanan terkontaminasi air hujan.
"Kejadiannya sangat spontan, ditambah cuaca saat itu tidak memungkinkan. Akhirnya makanan kami pindahkan ke plastik semata-mata karena khawatir terkena hujan," jelas Lusi.
Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri telah menegaskan bahwa SOP wajib diikuti. Penggunaan "ompreng" dalam distribusi bukan tanpa alasan, melainkan untuk menjamin keamanan dan kualitas gizi makanan yang disalurkan.
Kasus ini pun akhirnya berujung pada pertemuan. Pihak SPPG mengundang para kader untuk berkoordinasi lebih lanjut, mencoba mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
Artikel Terkait
Prabowo Buka Retret Ketua DPRD dengan Dialog dari Hati ke Hati
Bareskrim Gerebek Pabrik Gas Whip Pink Beromzet Miliaran di Jakarta
PSM Makassar Hadapi Borneo FC di Parepare, Pertarungan Sengit Penuh Sejarah
Harga Emas Perhiasan Relatif Stabil Meski Pasar Global Bergejolak