Krisis identitas pun tak terhindarkan. Mereka bertanya, ini diri saya yang sebenarnya, atau hanya versi yang ingin dilihat orang?
Di sisi lain, kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Lingkungan punya peran besar. Inilah mengapa memilih teman dan komunitas di kampus itu sangat krusial. Teman yang baik itu bukan yang memaksa kita ikut tren, tapi yang mengingatkan kita pada tujuan awal kita kuliah. Kampus harusnya jadi tempat membangun kemandirian dan karakter, bukan ajang kontes status sosial.
Pada akhirnya, dunia nyata akan menuntut hal yang berbeda. Dunia kerja butuh kompetensi, integritas, dan ketekunan. Bukan seberapa sering kita muncul di feed orang lain.
Jadi, menjadi keren yang sesungguhnya mungkin justru dimulai dari keberanian untuk berkata tidak. Tidak untuk gaya hidup yang tak terjangkau. Tidak untuk pertemanan yang hanya berbasis pencitraan. Fokus pada tujuan, sadar akan kemampuan diri, dan berani tampil apa adanya itulah sikap yang justru akan membawa kita lebih jauh.
Karena masa depan dibangun dengan ilmu dan kerja keras, bukan dengan filter dan hashtag.
Artikel Terkait
Kapolresta Sleman Didemosi Usai Sidang Disiplin Internal
Sarifah Suraidah, Istri Gubernur Kaltim, Catat Kekayaan Rp166,5 Miliar di LHKPN
Bagnaia Gagal Lolos Q2, Bezzecchi Kuasai Pole MotoGP Thailand 2026
Kekecewaan Cinta Diduga Jadi Pemicu Penganiayaan Mahasiswi UIN Suska Riau