Kampus seharusnya jadi tempat mencari ilmu. Tapi sekarang, lihat saja sekeliling. Ruang kuliah dan lorong kampus tak ubahnya panggung mode atau set foto. Banyak mahasiswa datang dengan impian besar, tapi perlahan-lahan terhanyut dalam arus yang lain sama sekali: arus eksistensi.
Tekanannya datang dari mana-mana. Media sosial, tentu saja, jadi biang kerok utama. Tapi lingkungan pertemanan di kampus sendiri sering kali justru memperparah keadaan. Ada semacam perlombaan diam-diam: siapa yang lebih fashionable, lebih sering nongkrong di tempat yang instagramable, atau lebih cepat mengikuti tren terbaru. Semua demi satu kata: diterima.
Yang terjadi kemudian? Banyak yang kehilangan arah. Nilai akademik merosot, itu hal biasa. Tapi yang lebih memprihatinkan, hidup mereka berubah jadi beban. Di balik penampilan kekinian dan unggahan yang wah, tersimpan perjuangan sunyi yang berat.
Mereka ada yang terjerat utang. Banyak yang kerja paruh waktu sampai larut malam, lalu paginya masuk kuliah dengan mata sembab. Semua demi bisa membeli tas merek ternama atau sekadar mentraktir teman-teman sekelompok. Ironisnya, demi gaya hidup yang "match", tak sedikit yang justru menekan ekonomi keluarga. Uang kuliah bisa tertunggak, sementara uang untuk beli sneaker edisi terbaru selalu ada.
Gengsi, ya. Itu topengnya. Sementara kebutuhan yang benar-benar penting justru dikorbankan.
Menurut sejumlah pengamat, batas antara realita dan pencitraan kini benar-benar kabur. Pengaruh selebgram dan konten kreator yang menampilkan kemewahan sebagai hal normal bikin standar hidup jadi melambung tinggi. Akibatnya, fokus utama pun bergeser. Bukan lagi pada buku dan teori, tapi pada like dan komentar. Bukan pada IPK, tapi pada jumlah follower.
Artikel Terkait
Makanan Balita Dibungkus Plastik, Program Gizi di Pandeglang Jadi Sorotan
Data BPJS Bakal Jadi Kunci Pemeriksaan Kesehatan Calon Haji 2026
Ksatria dan Hati Singa: Dua Wajah Perang Salib yang Bertolak Belakang
Eggi Sudjana dan Praktik Otoriter yang Menggerogoti TPUA