Rabu (7/1) pagi itu, pemandangan di depan Pasar Cimanggis, Ciputat, Tangerang Selatan, benar-benar memprihatinkan. Sebuah gunungan sampah menggunung tinggi, memakan hampir separuh badan jalan. Kendaraan yang melintas di jalur satu arah itu terpaksa merayap pelan, berebut sisa ruas jalan yang belum tertimbun. Rupanya, tumpukan itu sudah dibiarkan lebih dari seminggu, tak kunjung diangkut.
Yang bikin miris, meski tumpukan sudah menjulang, warga tetap saja membuang sampah ke lokasi yang disebut sebagai TPS itu. Kontainer sampah yang ada malah ikut tertimbun, tak kelihatan lagi. Semula, sampah-sampah itu berserakan tak karuan. Lalu, petugas pasar meminta seorang kuli panggul untuk merapikannya. Jadilah tumpukan raksasa itu, agar tak menggelinding ke jalan.
“Banyak orang buang sampah asal beber-beber (lempar) menggelinding, berserakan, ya akhirnya saya bertugas menata,” kata Anto, sang kuli panggul.
Warga lain, Imun dari Pamulang, punya alasan sendiri. “Nggak ada [tempat pembuangan sampah] yang lain. Yang di Ciputat juga udah enggak boleh. Adanya di sini doang, makanya orang-orang pada ke sini,” ujarnya. Ia hampir tiap hari membuang sampah ke Cimanggis.
Dompet Kempis Akibat Bau Busuk
Dampaknya langsung terasa. Arus lalu lintas macet, terutama saat jam sibuk. Motor, mobil, bahkan bus, semua merangkak pelan. Tapi gangguan terbesar bukan cuma kemacetan. Sampah yang kebanyakan limbah rumah tangga dan pasar itu mulai membusuk. Bau menusuk menyergap, memaksa pengendara menutup hidung atau merapatkan masker, lalu gaspol menjauh.
Warga sekitar pun jadi korban. Nunung, penjaga warteg di seberang pasar, harus berhadapan dengan gunungan sampah sejak Desember 2025. Padahal, sejak 2018 ia bekerja di situ, sampah selalu rajin diangkut tiap pagi. “Baru kali ini separah ini,” katanya.
Kini, dompetnya ikut kempis. Pengunjung wartegnya sering ogah makan karena bau dan pemandangan yang tak sedap. Omzet pun merosot. “... ada orang mau makan, enggak jadi. Katanya, ‘Ah, bau,’” cerita Nunung pilu. Ia terpaksa mengurangi porsi masakan. Ia sendiri sering pusing dan mual, anaknya bahkan pernah muntah karena tak tahan.
Nasib serupa menimpa warkop tepat di depan tumpukan. Kang Eman, pemiliknya, mengeluh pelanggan enggan duduk lama. Pendapatannya pun merosot.
Untungnya, setelah lebih dari seminggu dibiarkan, sampah akhirnya diangkut petugas DLH Tangsel pada malam 7 Januari 2026. Keesokan harinya, jalanan depan pasar sudah bersih.
Anggaran Membengkak untuk Buang Sampah ke Tetangga
Lantas, apa penyebabnya? Kepala Dinas Kominfo Tangsel, Tubagus Asep Nurdin, mengakui masalah ini berawal dari Desember 2025. Pemicunya adalah TPA Cipeucang yang sudah overcapacity dan perlu ditata. Padahal, TPA itu satu-satunya tempat pembuangan akhir bagi lebih dari 1,4 juta warga Tangsel yang menghasilkan 1.200 ton sampah per hari.
“Otomatis jeda sehari saja, itu sampah sudah numpuk. Kebayang kalau 1.000 ton enggak diangkut, per harinya sudah kayak apa,” ujar Asep.
Pemkot pun kelabakan. Mereka awalnya berhasil kerja sama dengan Kota Serang untuk membuang 500 ton sampah per hari ke TPA Cilowong. Tapi protes warga Serang memaksa kerja sama itu dihentikan. Akhirnya, sampah dialihkan ke Cileungsi, Bogor. Biayanya? Tak main-main: sekitar Rp 90 juta per hari.
Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan merinci, 200 ton sampah dikirim ke Cileungsi dengan tarif Rp 450 ribu per ton. Total ya Rp 90 juta sehari. Sungguh pengeluaran yang tak kecil.
Dari total 1.000 ton lebih sampah Tangsel, hanya 427 ton yang dikelola DLH untuk dibawa ke TPA. Selebihnya ditangani swasta atau lewat program 3R. Namun, keterbatasan TPA membuat proses pengangkutan jadi lambat. Status tanggap darurat sampah pun diperpanjang sampai 19 Januari.
Longsor, Ancaman yang Selalu Mengintai
Masalah ini ternyata bukan cuma milik Tangsel. Kota-kota lain seperti Depok, Bogor, Bandung, bahkan Yogyakarta dan Bali juga menghadapi krisis serupa. Mereka semua bergantung pada TPA yang sudah kelebihan muatan.
Artikel Terkait
Pemecatan Massal TPUA, Sinyal Klarifikasi Eggi Sudjana Usai Bertemu Jokowi
Kepala Sekolah Lampung Murka, Tempe dan Anggur Busuk Ditemukan di Menu Gizi Gratis
Keringat Pagi dan Aroma Kopi: Ritual Sempurna di Tengah Kesibukan Kota
Presiden Iran Tuding AS dan Israel Dalangi Kerusuhan, Korban Jiwa Tembus 540 Orang