Ibu Kota yang Tergerus, Rakyat yang Masih Tersenyum

- Senin, 12 Januari 2026 | 11:00 WIB
Ibu Kota yang Tergerus, Rakyat yang Masih Tersenyum

INDONESIA TERTAWA HANYA UNTUK MENUNDA TANGIS

Oleh Sutoyo Abadi

Ibukota negara sudah tiada. Tapi kau merasa seperti masih dalam dekapan ibu kandung. Ia lenyap, musnah, dicabut bahkan mampus, kata sebagian orang. Namun kau? Masih tampak gembira. Masih merasa nyaman. Bilang masih hidup. Seolah-olah semua itu masih ada, padahal mungkin sudah muksa.

Lalu, apa yang terjadi? Ibu kota dikuasai oligarki. Kau bilang, "Ah, cuma dibeli kok." Ia berubah jadi kawasan mewah seperti PIK, dan kau menyebutnya ibu kota baru. Menjadi kawasan aglomerasi dan industri, kau teriak itu kemajuan, masa depan. Dikelola konglomerat, kau puji dia dermawan.

Bahkan ketika berubah jadi hunian imigran asing, kau anggap itu nasib. Dan saat wacana menjadi "Singapore" kedua mengemuka, kau bilang: sempurna.

Di sisi lain, ada yang melihat sesuatu yang lebih gelap. Negara dalam negara itu nyata, berkeliaran di depan mata. Tapi banyak yang pura-pura buta. Mereka bilang ini cuma perubahan, sementara kedaulatan terancam. Mereka teriak NKRI harga mati, tapi abai pada musuh dalam selimut. Mereka bicara persatuan dan perdamaian, sementara penghinaan terhadap bangsa dibiarkan tumbuh.

Bagi yang waspada, ini adalah embrio Singapura kedua. Tanda akan bubarnya NKRI. Tapi jawaban yang datang selalu sama: kemajuan masa depan.

Berlaku Hukum Perang – bukan Hukum Pidana Sipil dan yang berlaku situasi darurat militer. Maka undang-undang yang berlaku “UU Subversif”.

Jadi, apa lagi yang ditunggu? Rakyat harus bertindak, dan cepat. Menyelamatkan kedaulatan yang tinggal cerita.

Terlambat bertindak, Indonesia tertawan hanya untuk menunda tangis. Kaum pribumi akan musnah. Dan negeri ini, yakinlah, akan menjadi Singapura kedua.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar