“Saya mendapat informasi bahwa anggaran untuk Aceh Tamiang gelombang pertama itu tanpa melalui administrasi [terlebih dahulu], administrasi nyusul, uangnya duluan,” katanya.
Ia mendesak pemerintah daerah segera memanfaatkan dana itu. Prioritas utama? Membayar gaji pegawai. Dengan daya beli yang pulih, ekonomi lokal diharapkan ikut bergerak. Setelah itu, anggaran bisa dialihkan untuk perbaikan kantor yang rusak dan melengkapi peralatan kerja seperti komputer dan mebel.
Tak cuma uang, Kemendagri juga mengirim dua orang ahli keuangan daerah untuk mendampingi Pemkab. Tujuannya, membantu urusan administrasi dan koordinasi dengan DPRD setempat. Pendampingan ini diharapkan bisa mempercepat keputusan, tapi tetap mematuhi prinsip akuntabilitas.
Langkah lain juga sudah disiapkan. Mendagri menyebut akan ada tambahan personel TNI-Polri untuk pembersihan skala rumah tangga. Perlengkapan pendukung seperti ribuan pasang sepatu bot juga sedang dikirim.
“Supaya bisa bermanfaat dalam menghadapi pemulihan ini di tengah daerah yang masih becek-becek,” tandasnya.
Rupanya, pemulihan pascabencana memang seperti maraton. Butuh dukungan berlapis, dari hal teknis seperti gerobak dan mi instan, hingga dukungan anggaran dan SDM. Semua saling terkait untuk mengembalikan denyut kehidupan di Aceh Tamiang.
Artikel Terkait
Putra Mahkota Terakhir Iran: Suara dari Pengasingan yang Menggema di Tengah Gelombang Demo
Influencer TR Dilaporkan ke Polisi Diduga Tipu Gen Z Lewat Sinyal Trading Kripto
Prabowo Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Langkah Nyata Hapus Kemiskinan Ekstrem
KPK Periksa Wakil Katib PWNU DKI Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji