Dua Musuh Abadi Umat Islam: Dari Sistem Hingga Bisikan Halus

- Jumat, 09 Januari 2026 | 20:25 WIB
Dua Musuh Abadi Umat Islam: Dari Sistem Hingga Bisikan Halus

Setan bekerja dari dalam. Sasaran utamanya bukan mengkafirkan, tapi membuat seorang Muslim jadi lalai. Membuat umat sibuk berdebat soal remeh, tapi lupa membenahi yang pokok. Mengubah agama cuma jadi simbol seremonial, bukan sistem hidup yang menyeluruh. Atau, meninabobokan dengan ritual, sambil mematikan keberanian untuk melawan ketidakadilan di sekeliling.

Jadi, jika musuh terlihat merusak struktur luar, musuh tak terlihat ini meruntuhkan fondasi dalam: iman, kesadaran, dan keberanian moral.

Lalu, Di Mana Medan Pertarungan Sesungguhnya?

Di sinilah kita sering keliru. Mengira musuh utama selalu ada di luar. Padahal, kalau kita baca sejarah, setiap keruntuhan peradaban Islam selalu diawali oleh kerusakan internal. Baru kemudian tekanan eksternal datang menyempurnakan kehancuran itu.

Islam tak mengajarkan paranoia, melainkan kewaspadaan. Bukan kebencian, tapi keteguhan prinsip. Dan bukan kekerasan, melainkan perlawanan moral serta intelektual.

Pertanyaannya sekarang: selama umat Islam belum menguasai ilmu dengan landasan nilai, membangun ekonomi berlandaskan keadilan, mendidik generasi dengan akidah dan akhlak yang kokoh, serta menempatkan kekuasaan sebagai amanah yang berat… maka musuh baik yang terlihat maupun tidak akan terus menang. Mereka bahkan tak perlu mengangkat senjata.

Penutup

Benar, setiap Muslim lahir dengan dua musuh abadi. Tapi Islam juga membekali kita dengan dua senjata utama: iman yang sadar dan akal yang merdeka. Tanpa keduanya, kita cuma akan jadi penonton dalam panggung sejarah. Mayoritas secara jumlah, tapi minoritas dalam pengaruh.

Dan mungkin, di situlah letak tragedi terbesar kita hari ini.

Benz Jono Hartono
Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalis PWI Pusat, Executive Director HIAWATHA Institute di Jakarta


Halaman:

Komentar