SETIAP UMAT ISLAM YANG LAHIR KE DUNIA PUNYA MUSUH DUA
Benz Jono Hartono
Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalis PWI Pusat, Executive Director HIAWATHA Institute
Hidup, sejak awal kisah manusia di bumi, tak pernah dimaksudkan sebagai ruang kosong tanpa tantangan. Islam sendiri menggarisbawahi hal ini. Hidup adalah arena ujian. Dan bagi seorang Muslim, ujian itu datang dari dua arah: musuh yang bisa kita lihat, dan musuh yang tak kasat mata.
Pertama, Musuh yang Terlihat: Kebatilan yang Terorganisasi
Musuh jenis ini bukan cuma soal orang per orang. Lebih dari itu, ia adalah sistem. Sebuah ideologi, atau kepentingan terstruktur, yang jelas-jelas berseberangan dengan tauhid dan keadilan. Dalam bahasa agama, sering disebut sebagai kekuatan kekafiran dan kemunafikan. Tapi intinya bukan pada label personal, melainkan pada sikap hidup yang menolak kebenaran, memutarbalikkan moral, dan menempatkan kepentingan duniawi di atas segalanya.
Kekuatan ini bergerak rapi. Ia menguasai banyak lini.
Ambil contoh ilmu pengetahuan dan teknologi. Alih-alih membebaskan, seringkali justru dipakai untuk mengontrol. Lalu ada ekonomi, perbankan, dan sistem keuangan yang menjadikan utang sebagai alat penundukan. Kekuasaan pemerintahan? Hukum yang dibuat kerap bukan untuk keadilan, tapi melanggengkan kekuasaan. Bahkan militer dan kepolisian yang seharusnya melindungi, tak jarang berubah jadi alat represi.
Belum selesai. Lembaga peradilan bisa kehilangan ruhnya ketika tunduk pada pesanan. Sumber daya alam dieksploitasi habis-habisan, tanpa memedulikan amanah untuk generasi nanti. Pendidikan dan kurikulum kita, sering menghilangkan ruh moral dan spiritual, diganti dengan pragmatisme yang kering. Serta budaya dan sosial-politik yang perlahan tapi pasti mengikis fitrah manusia.
Ini yang ironis. Di saat umat Islam menjadi mayoritas secara jumlah, bukan nilai-nilai Islam yang justru tegak. Malah, tatanan hidupnya dirusak dari dalam. Mulai dari rumah tangga, cara mendidik anak, sampai tata kelola negara. Fakta pahitnya, mayoritas jumlah tak pernah otomatis berarti mayoritas kesadaran.
Kedua, Musuh yang Tak Terlihat: Iblis dan Bisikan Halusnya
Nah, yang satu ini justru lebih berbahaya. Karena tak kasat mata. Ialah iblis dan setan. Ia tak datang bawa senjata, tapi bisikan. Ia tak memaksa, ia membujuk. Caranya halus: membungkus kebatilan dengan logika yang masuk akal, dalih modernitas, atau narasi "kenormalan" zaman sekarang.
Artikel Terkait
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan
Prajurit Gugur di Nduga, Ayah Banggakan Tekad Baja Anaknya yang Tak Pernah Menyerah
Megawati Bikin Heboh, Nyanyikan Cinta Hampa di Panggung Rakernas PDIP