Benang Merah Chromebook Nadiem dan Investasi Google di GOTO: Negara Rugi Dua Kali?

- Jumat, 09 Januari 2026 | 05:40 WIB
Benang Merah Chromebook Nadiem dan Investasi Google di GOTO: Negara Rugi Dua Kali?

Nah, pertanyaan besarnya: kenapa Google mau beli saham Gojek dengan harga semahal itu? Murni pertimbangan bisnis, atau ada faktor "koneksi" tertentu? Di sinilah posisi ganda Nadiem sebagai Mendikbud sekaligus pendiri Gojek jadi sangat menarik.

Dalam paparan Dirut Telkom ke DPR, investasi Telkomsel ke GOTO divalidasi karena melihat ada perusahaan global besar seperti Google yang juga masuk. Dan kebetulan sekali, kurun 2019–2020 itu adalah masa proyek Chromebook di kementerian Nadiem berjalan.

Menjelang IPO di 2021, valuasi GOTO melonjak jadi USD6.997,85 per lembar. Artinya, Google sudah kebagian capital gain potensial sebesar 38,6% dari harga belinya. Cukup signifikan.

STOCK SPLIT & DUIT TELKOMSEL (2020–2021)

Lalu terjadi stock split. Harga nominal saham disesuaikan jadi sekitar Rp270. Di momen inilah duit Telkomsel sebesar Rp6,4 triliun masuk.

Akibat stock split, jumlah lembar saham Google yang awalnya ratusan ribu meledak jadi sekitar 43,8 miliar lembar. Sementara Telkomsel, dengan Rp6,4 triliun, dapat sekitar 24 miliar lembar.

Saya menduga, Google menjual sebagian sahamnya ke Telkomsel dalam transaksi sekunder. Tujuannya? Mengubah keuntungan di atas kertas jadi uang tunai nyata, sambil pegang sisa saham untuk dijual lagi nanti. Pertanyaan lain: apakah Nadiem juga jual sebagian sahamnya ke Telkomsel? Ini harus didalami penegak hukum.

PESTA IPO DI HARGA RP338

Puncaknya adalah IPO 11 April 2022 di harga Rp338. Saat itulah kekayaan Nadiem secara teoritis melonjak 33.700% dari modal Rp1-nya. Google juga pasti cuan besar. Inilah The Great Exit: saat publik ramai-ramai beli di harga tinggi, investor awal bisa cuci tangan dengan tenang.

Jadi benang merahnya, negara berpotensi rugi dua kali. Pertama, rugi di APBN karena proyek Chromebook (minimal Rp2,1 triliun menurut BPKP). Kedua, rugi di BUMN karena Telkomsel beli saham di harga "gorengan" Rp270 yang sekarang cuma Rp60-an.

Lupakan dulu latar belakang keluarga atau kampus mentereng. Lihat faktanya saja.

Proyek Chromebook nyatanya bukan cuma untuk mencerdaskan anak bangsa. Lebih dari itu, dia berfungsi menjaga valuasi agar investor elite bisa exit dengan profit triliunan, sementara menteri kita hartanya membumbung tinggi di atas kertas.

Operasinya halus, rapi, tapi mematikan bagi keuangan negara.

Masih percaya ini cuma kriminalisasi?

Salam,
AEK


Halaman:

Komentar