Lantas, bagaimana dengan Gedung Sate? Apakah ikon pemerintahan Jabar itu akan dibuka untuk nobar? Erwan dengan tegas menyatakan hal itu tidak mungkin. “Kami kira ini gak memungkinkan ya, karena tempatnya juga tidak luas. Apalagi Gedung Sate kantor pemerintahan dan pertandingan hari Minggu, jadi gak bisa,” ucapnya.
Di sisi lain, pengamanan pertandingan dipastikan akan sangat ketat. Dari ring terluar hingga ke dalam stadion, semua sudah disiapkan. Erwan ingin laga ini berjalan mulus, menjadi “lebarannya bobotoh” yang sukses. “Mari kawal pertandingan ini berjalan dengan sangat sukses,” ajaknya.
Kekhawatiran akan terulangnya insiden non-teknis seperti pada 2018 lalu jelas membayangi. Waktu itu, gangguan sempat berdampak pada kegagalan Persib meraih gelar. “Oleh karena itu, kita antisipasi dari masalah teknis maupun non-teknis,” tegas Erwan. Poin utamanya: jangan sampai Persib kena sanksi PSSI karena ulah oknum. “Jangan sampai nanti tim tamu mundur tidak mau melaksanakan pertandingan dengan alasan mereka diganggu,” katanya.
Sementara dari kubu suporter, Ketua Viking Persib Club (VPC) Tobias Ginanjar turut angkat bicara. Dia memastikan bobotoh Persib tak akan melakukan hal yang merugikan timnya. Energi mereka justru akan disalurkan lewat koreografi spesial di tribun.
“Nanti hari Minggu akan ada koreo yang secara sejarah termahal yang pernah dibuat oleh Viking. Jadi hari Minggu, ditunggu saja kejutannya,” kata Tobias, berjanji.
Koreografi itu, menurutnya, murni bentuk dukungan. Tanpa yel-yel rasis atau ujaran kebencian. “Tanpa chance-chance rasis dan ujaran kebencian,” ujarnya.
Tobias juga mengingatkan, tiket benar-benar sudah habis. Dia memohon pengertian bobotoh untuk tidak memaksakan datang ke stadion. “Yang kita jaga adalah nama baik Persib. Jangan sampai Persib dihukum,” pinta Tobias. Pesannya singkat: “Yang datang ke stadion hanya yang memiliki tiket.”
Artikel Terkait
Iran Tegas Tangani Perusuh, Unjuk Rasa Bergulir ke 45 Kota
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan, Muhammadiyah dan NU Tegaskan Bukan Sikap Resmi
Ketika Humor Tak Mau Lagi Hanya Menghibur: Absurditas dan Batas Toleransi Publik
Ketika Koruptor Beragama Islam, Mengapa Agamanya yang Diserang?