Kedua, mereka agak 'ngeper' juga ketika berhadapan langsung dengan SBY dan Demokrat. Tiba-tiba saja ingat kalau mereka satu koalisi, satu tubuh. Padahal, selama ini menyerang seenaknya, lupa sama sekali dengan ikatan itu. Siapa pun yang dianggap menghalangi Gibran, langsung dicap lawan. Mungkin juga lupa, bahwa posisi sekarang sudah berbeda. Jokowi bukan presiden lagi, Gibran 'hanya' wapres. Ya, wapres.
Ketiga, kepercayaan diri mereka terlihat sangat tinggi. Seolah tak pernah merasa salah. Yang salah pasti orang lain. Bahkan ketika SBY atau Demokrat membela diri, malah dianggap keliru. "Kenapa pakai jalur hukum? Kenapa nggak politik saja?" Giliran menyerang, lupa koalisi. Giliran dibalas, baru ingat. Dasar...!
Menurut sejumlah pengamat, dinamika seperti ini memang kerap terjadi di panggung politik. Namun begitu, sikap konsisten dan jelas dalam berkomunikasi tetap jadi kunci. Ade Darmawan mungkin hanya menyuarakan kebingungan yang dirasakan banyak pihak di kubu mereka.
Tapi ya, itulah politik. Kadang logikanya berjalan terbalik.
(Erizal)
Artikel Terkait
KPK Periksa Belasan Pejabat Tulungagung Usai OTT Bupati
KPK Tangkap Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo dalam Operasi di Jatim
Siswa Tewas Usai Senapan Rakitan Meledak Saat Ujian Praktik di Siak
ASN Kementan Ubah Pekarangan Sempit Jadi Model Ketahanan Pangan Keluarga