Paradoks Kebahagiaan Indonesia: Peringkat Dunia yang Bertolak Belakang

- Kamis, 08 Januari 2026 | 08:00 WIB
Paradoks Kebahagiaan Indonesia: Peringkat Dunia yang Bertolak Belakang

Dalam psikologi sosial, ada konsep "adaptive preference". Intinya, manusia cenderung menurunkan standar kebahagiaannya ketika harapan untuk mendapat yang lebih baik semakin kecil. Ketika kesejahteraan materi sulit dicapai, fokus beralih ke hal-hal non-materi: keluarga, agama, komunitas. Gotong royong jadi bantalan sosial. Iman menjadi penawar rasa sakit.

Ini bukan hal buruk. Ini adalah mekanisme bertahan hidup yang cerdas secara kolektif. Tapi di titik inilah paradoksnya menjadi tajam. Apakah kita bahagia karena hidup kita sudah baik, atau karena kita sudah berhenti berharap hidup akan menjadi lebih baik?

Bangsa yang terus-menerus mengklaim "kami bahagia" di tengah ketimpangan, upah rendah, dan layanan publik yang belum merata, punya risiko besar. Risiko untuk terjebak dalam romantisasi penderitaan.

Kebahagiaan ala flourishing kita memang hangat dan penuh makna. Tapi ia juga bisa menjadi alarm sunyi. Tanda bahwa rakyat menemukan sumber kebahagiaannya sendiri, justru karena negara belum sepenuhnya hadir memenuhi kebutuhan dasarnya.

Dua Pesan untuk Satu Negeri

World Happiness Report seperti berkata dengan datar, "Secara sistem, kamu belum bahagia." Global Flourishing Study membalas dengan lembut, "Tapi kami masih punya satu sama lain."

Keduanya tidak salah. Mereka hanya bicara tentang lapisan realitas yang berbeda.

Bagi pemerintah, temuan ini ibarat pedang bermata dua. Jika data flourishing cuma dijadikan tameng untuk bilang, "Lihat, rakyat saya sudah bahagia," maka itu berbahaya. Kebahagiaan tak boleh jadi alasan untuk berpuas diri dan mengabaikan pembenahan struktural.

Sebaliknya, ini harus dibaca sebagai modal sosial yang luar biasa besar. Sebuah fondasi kepercayaan, solidaritas, dan ketahanan batin yang langka. Fondasi ini justru harus diberi penguatan berupa kebijakan yang adil dan merata. Agar ia tidak ambruk diterpa frustasi generasi muda yang mungkin sudah tidak punya kesabaran yang sama.

Harapan untuk Esok

Jadi, di manakah kita sekarang? Indonesia mungkin bukan bangsa paling "happy" versi standar global yang modern. Tapi kita adalah bangsa yang masih mampu merasakan hidupnya bermakna, yang masih punya ikatan sosial yang kuat.

Tantangannya jelas. Jangan biarkan kebahagiaan yang ada hari ini menjadi pengganti untuk keadilan yang belum terwujud. Bangsa yang besar bukan cuma bangsa yang bisa tersenyum dalam kesulitan, tapi juga bangsa yang berani berharap lebih dan menuntut kehidupan yang layak, tanpa harus mengorbankan kedalaman jiwanya.

Di situlah letak tugas kita semua. Paradoks ini bukan akhir cerita, tapi awal dari sebuah refleksi yang jujur.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar