Seluruh rumah sakit di daerah yang kena bencana akhirnya bisa beroperasi lagi per 1 Januari kemarin. Itu kabar langsung dari Kementerian Kesehatan. Tapi, situasinya belum seratus persen mulus. Dari ratusan puskesmas yang terdampak, ternyata masih ada tiga yang belum bisa berfungsi normal di gedungnya sendiri semuanya berada di Aceh.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ngomong, pemulihan layanan kesehatan ini dilakukan bertahap. Prioritas pertama ya rumah sakit, soalnya sifatnya kritis dan nyawa taruhannya.
“Tahap yang pertama adalah kita harus segera memulihkan layanan kesehatan di rumah sakit. Karena ini adalah layanan yang paling critical dan life-saving. Karena banyak yang harus segera dirawat di rumah sakit agar kondisinya bisa kita selamatkan,” jelas Budi dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (7/1).
87 Rumah Sakit Terdampak, Sembilan Sempat Berhenti Total
Menurut penjelasan Budi, bencana ini mempengaruhi 87 rumah sakit dari total 130 yang ada di wilayah Aceh dan Sumatera. Kondisinya parah banget sampai-sampai, catatan per 1 Desember 2025, sembilan rumah sakit terpaksa berhenti total.
“Nah, dari 87 rumah sakit yang terdampak pada saat bencana ini terjadi, kita lihat dalam seminggu beberapa di antaranya bisa pulih kembali. Nah, ada sembilan yang benar-benar harus berhenti beroperasi,” ungkap Budi.
Delapan di antaranya ada di Aceh, sisanya satu di Sumatera Utara.
“Satu di Sumatera Utara, Tanjung Pura di Langkat, dan delapan itu di Aceh ya,” lanjutnya.
Nah, buat nangani keadaan darurat ini, Kemenkes langsung bikin pusat krisis kesehatan di lapangan.
“Jadi tanggal 1 Desember, kita membentuk Pusat Krisis Kesehatan, itu sudah prosedur yang standar di Kementerian Kesehatan. Namanya Health Emergency Operation Center, di tiga provinsi dan seluruh kabupaten/kota terdampak,” jelas Budi.
Meski alat-alatnya sempat “nggak karu-karuan” dan banjirnya setinggi pinggang lebih, semua rumah sakit itu akhirnya bisa melayani lagi dalam waktu dua minggu. Cukup cepat, sih.
867 Puskesmas Terdampak, Tiga Masih Belum Beroperasi di Gedung
Setelah rumah sakit, giliran puskesmas yang dipulihkan. Jumlahnya jauh lebih banyak dan tantangannya juga beda. Dari 1.265 puskesmas, yang kena imbas sampai 867. Parahnya, 152 di antaranya sempat berhenti operasi total mayoritas di Aceh.
“Kita ingin memulihkan kembali layanan kesehatan di seluruh puskesmas. Ini jauh lebih berat karena lebih banyak puskesmas-nya, ada 867, dan 152 benar-benar kerendam tinggi sekali, udah berantakan sekali, berhenti beroperasi,” jelas Budi.
Syukurlah, kerja keras tim di lapangan membuahkan hasil. Hingga awal Januari 2026, hampir semua puskesmas udah bisa berfungsi. Tapi, tiga puskesmas di Aceh masih belum bisa pindah ke gedung aslinya.
“Dan Alhamdulillah sampai awal Januari 2026, tinggal tiga lagi yang belum bisa beroperasi, yaitu di Aceh Tengah (Rusip Antara), di Aceh Tenggara (Jambur Lak Lak), dan di Aceh Timur (Lokop),” ungkapnya.
Khusus Puskesmas Lokop, kondisinya paling mengenaskan. Kerusakannya parah banget.
“Yang Lokop ini benar-benar sudah hancur, jadi ketimpa kayu-kayu besar ya jadi Puskesmas roboh, sekarang sedang kita bangun baru,” tandasnya.
Jadi, meski layanan kesehatan utama sudah kembali, perjuangan di tingkat yang paling dasar puskesmas ternyata masih ada yang tersisa. Butuh waktu lagi untuk bangun dari nol.
Artikel Terkait
AC Milan Tersungkur di San Siro, Kalah 0-1 dari Parma
Pakar Hukum Soroti Daya Paksa dan Krisis Kepercayaan Publik pada Aparat
Jadwal Imsak dan Subuh Medan 23 Februari 2026: Imsak Pukul 05.12 WIB
Imsak Yogyarta Pukul 04.16 WIB, Ulama Ingatkan Keberkahan Sahur dan Kuatkan Niat