Densus 88 Ungkap Kaitan Perundungan dan Radikalisme Neo-Nazi pada Anak

- Rabu, 07 Januari 2026 | 16:06 WIB
Densus 88 Ungkap Kaitan Perundungan dan Radikalisme Neo-Nazi pada Anak

Operasi Densus 88 Antiteror berhasil memetakan sebuah fenomena yang mengkhawatirkan: 70 anak di 19 provinsi terpapar paham radikal Neo-Nazi dan supremasi kulit putih. Hasil penyelidikan mengungkap, ada benang merah yang cukup jelas di antara mereka. Banyak dari anak-anak ini ternyata adalah korban perundungan.

Juru Bicara Densus 88, AKBP Myandra Eka Wardhana, memaparkan temuannya di Mabes Polri, Rabu lalu.

“Dari pemetaan dan asesmen yang dilakukan bersama, dapat diidentifikasi bahwa terdapat penyebab yang memicu anak-anak bergabung dengan komunitas ini, salah satunya adalah terjadinya perundungan,” ujarnya.

“Rata-rata yang bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau di lingkungan masyarakat, yaitu di luar sekolah,” lanjut Eka.

Namun begitu, perundungan bukanlah satu-satunya pemicu. Latar belakang keluarga yang bermasalah juga menjadi faktor krusial. Situasi seperti broken home, orang tua yang meninggal, atau kurangnya perhatian dari figur keluarga menciptakan ruang kosong dalam diri mereka.

Eka menjelaskan lebih rinci, “Kemudian broken home, rata-rata orang tuanya bercerai, meninggal dunia, kurang perhatian, keluarga tidak harmonis, mengalami trauma di dalam keluarga, atau kerap menyaksikan kekerasan di rumah. Selain itu, orang tua terlalu sibuk, kurang teman, dan membutuhkan apresiasi.”

Dalam kondisi terasing dan terluka seperti itu, mereka pun mencari pelarian. Dan dunia maya, dengan grup-grup media sosial yang tertutup, akhirnya menjadi tempat berlindung. Di sana, mereka merasa diterima.

“Di sini mereka merasa memiliki rumah kedua karena di dalam komunitas ini aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya,” tandas Eka.

Sayangnya, rasa memiliki itu dibangun di atas fondasi yang keliru. Interaksi dan dialog yang terjalin justru mengarah pada rekomendasi penyelesaian masalah melalui kekerasan. Itulah jebakannya. Mereka mencari rumah, tetapi menemukan labirin kebencian.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar