Eka menjelaskan lebih rinci, “Kemudian broken home, rata-rata orang tuanya bercerai, meninggal dunia, kurang perhatian, keluarga tidak harmonis, mengalami trauma di dalam keluarga, atau kerap menyaksikan kekerasan di rumah. Selain itu, orang tua terlalu sibuk, kurang teman, dan membutuhkan apresiasi.”
Dalam kondisi terasing dan terluka seperti itu, mereka pun mencari pelarian. Dan dunia maya, dengan grup-grup media sosial yang tertutup, akhirnya menjadi tempat berlindung. Di sana, mereka merasa diterima.
“Di sini mereka merasa memiliki rumah kedua karena di dalam komunitas ini aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya,” tandas Eka.
Sayangnya, rasa memiliki itu dibangun di atas fondasi yang keliru. Interaksi dan dialog yang terjalin justru mengarah pada rekomendasi penyelesaian masalah melalui kekerasan. Itulah jebakannya. Mereka mencari rumah, tetapi menemukan labirin kebencian.
Artikel Terkait
Saldo Rp 500 Ribu: Ironi Kas Daerah di Balik Gaya Gubernur Jabar
KPK Tunggu Audit BPK untuk Tentukan Kerugian Negara dari Kasus Kuota Haji
Warkop di Bundaran HI Ditegur, Meja Kursi di Trotoar Harus Minggir
Pertemuan Solo: Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Bertamu, Koalisi Penggugat Retak