Salat Jumat di Pedukuhan Gari kini berpindah tempat. Warga yang biasanya beribadah di Masjid Al-Huda, terpaksa memakmurkan Musala Karim Al Gari. Penyebabnya? Masjid satu-satunya di pedukuhan itu sudah rata dengan tanah.
Budi Antoro, Ketua Panitia Pembangunan masjid, mengaku situasi ini bermula dari janji manis seorang donatur. Sang dermawan berkomitmen membangun ulang masjid, sehingga bangunan lama dirobohkan. Tapi, ujung-ujungnya, donatur itu malah menghilang begitu saja. "Kabur," ujar Budi, Rabu (7/1) lalu.
Nah, untuk mengakali keadaan, warga pun berinisiatif. Mereka memperluas kapasitas musala dengan menambah teras di area parkir. "Kami pasang galvalum. Kalau Jumatan, kami tutup jalan sekalian," imbuh Budi, menjelaskan upaya menampung jemaah.
Menurutnya, solusi sementara ini cukup bekerja. Dari sekitar 350 kepala keluarga atau 800-an jiwa di Gari, tak semua menghadiri salat Jumat di kampung. Sebagian ada yang melakukannya di tempat kerja.
Artikel Terkait
Rusia Ancam Serang Pasukan Asing di Ukraina, Sebut Kesepakatan Paris Poros Perang
Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB 2026, Usung Gagasan Presidensi untuk Semua
Toko Kosmetik di Ciracas Diduga Jadi Peredar Gelap Tramadol
Tito Karnavian Gagas Siswa Kedinasan Jadi Ujung Tombak Pemulihan Pascabencana