Salat Jumat di Pedukuhan Gari kini berpindah tempat. Warga yang biasanya beribadah di Masjid Al-Huda, terpaksa memakmurkan Musala Karim Al Gari. Penyebabnya? Masjid satu-satunya di pedukuhan itu sudah rata dengan tanah.
Budi Antoro, Ketua Panitia Pembangunan masjid, mengaku situasi ini bermula dari janji manis seorang donatur. Sang dermawan berkomitmen membangun ulang masjid, sehingga bangunan lama dirobohkan. Tapi, ujung-ujungnya, donatur itu malah menghilang begitu saja. "Kabur," ujar Budi, Rabu (7/1) lalu.
Nah, untuk mengakali keadaan, warga pun berinisiatif. Mereka memperluas kapasitas musala dengan menambah teras di area parkir. "Kami pasang galvalum. Kalau Jumatan, kami tutup jalan sekalian," imbuh Budi, menjelaskan upaya menampung jemaah.
Menurutnya, solusi sementara ini cukup bekerja. Dari sekitar 350 kepala keluarga atau 800-an jiwa di Gari, tak semua menghadiri salat Jumat di kampung. Sebagian ada yang melakukannya di tempat kerja.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Pencak Silat Sebagai Cermin Jati Diri dan Ilmu Kesatria
Tim SAR Kerahkan Drone Thermal Cari Remaja 14 Tahun yang Hilang di Hutan Mamuju
Arsenal Tersungkur di Kandang Sendiri, Bournemouth Menang 2-1
Ayah di Cianjur Ditahan Diduga Cabuli Anak Kandung Usia 10 Tahun