Benarkah Iran Diguncang Demonstrasi Besar?
Jawabannya, ya. Faktanya, sejak penghujung 2025 hingga awal 2026, jalanan di berbagai kota Iran ramai oleh massa. Gelombang protes besar-besaran ini menyapu negeri, dipicu oleh krisis ekonomi yang benar-benar parah. Hingga tanggal 7 Januari lalu, aksi ini sudah menjalar ke ratusan titik tepatnya 285 lokasi di 92 kota berbeda. Luar biasa, bukan?
Semua ini berawal dari gejolak ekonomi yang tak tertahankan. Hiperinflasi, harga pangan yang melambung, dan nilai Rial yang terpuruk jadi pemicu utamanya. Mata uang mereka bahkan sempat menyentuh titik terendah sejarah: 42 ribu Rial untuk satu dolar AS. Wajar saja kalau warga marah.
Namun begitu, tuntutan rakyat tak berhenti di situ. Awalnya cuma soal ekonomi, tapi kemudian berkembang jadi gerakan politik yang lebih keras. Slogan-slogan penuh amarah, seperti seruan "Matilah Diktator," mulai menggema di tengah kerumunan.
Bentrokan dengan aparat pun tak terhindarkan. Menurut laporan dari organisasi hak asasi manusia HRANA, dalam sepuluh hari pertama saja sudah ada 36 korban jiwa. Lebih dari dua ribu orang lainnya ditahan. Kota-kota besar seperti Teheran termasuk Grand Bazaar yang legendaris Mashhad, hingga Isfahan dan Ilam, menjadi saksi bisu kericuhan ini.
Di sisi lain, respon pemerintah cukup keras. Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dengan tegas menyebut para pengunjuk rasa sebagai "perusuh". Dia juga menuding ada campur tangan asing, terutama dari Amerika Serikat dan Israel. Untuk meredam situasi, akses internet sempat diputus di 21 provinsi. Bisa dibilang, ini adalah ujian berat bagi rezim sejak tahun 2022.
Benarkah Ada Tangan AS dan Israel di Balik Kerusuhan?
Pertanyaan itu mengemuka. Sejumlah pengamat internasional punya pandangan menarik. Salah satunya adalah Tengku Zulkifli Usman.
"Demonstrasi di Iran belum berakhir. Demo yang sudah masuk minggu kedua ini secara terang-terangan didukung AS dan Israel," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah Iran sebenarnya sudah berusaha berdialog. Awalnya, unjuk rasa itu murni penyampaian aspirasi. Tapi yang terjadi kemudian berbeda. Yang tersisa sekarang adalah barisan pemberontak yang menyusup. Mereka ini agen asing banyak yang sudah ditangkap dan mengaku terkait Mossad.
Pihak berwenang Iran sudah bersikap tegas. Lembaga peradilan menyatakan para perusuh akan "dibersihkan". Sampai saat ini, korban jiwa dari kedua belah pihak sipil dan aparat diperkirakan sekitar 30 orang.
Zulkifli meyakini, demo kali ini benar-benar dimanfaatkan. AS dan Israel disebut menyusupkan agen mereka lewat perbatasan Irak, di mana ada pangkalan militer AS yang aktif. Penyusupannya dilakukan secara profesional oleh orang-orang terlatih.
"Dukungan resmi yang diberikan oleh AS dan Israel kepada para penyusup membuat pemerintah Iran mengambil tindakan sangat tegas. Statement dari pemerintah sudah clear: siapapun yang melakukan kerusuhan akan dihadapi dengan peluru," tegasnya.
Lanskap protes ini dinilai sudah melenceng jauh. Ada operasi terencana, terstruktur, dan didanai dari luar. Ini bisa jadi salah satu demonstrasi paling berbahaya yang dialami Iran sejak revolusi.
Namun, ada agenda yang lebih besar. Bukan cuma soal penggulingan Ali Khamenei. AS disebut sedang menjalankan peta besar di Asia Barat. Setelah Venezuela, Iran adalah target berikutnya. Alasannya strategis: melemahkan Iran berarti memutus salah satu nadi ekonomi dan pengaruh China-Rusia di kawasan, terutama di Selat Hormuz yang vital.
Tapi, Iran bukan Venezuela. Kekuatan militernya mumpuni, didukung ideologi yang kokoh dari dalam. Daya tahannya sudah teruji, baik langsung maupun lewat proxy-proxy di medan perang.
Menggulingkan rezim di Tehran bukan hal mustahil jika AS nekat. Tapi konsekuensinya bakal mahal sekali. Harga geopolitiknya sangat besar, baik secara regional maupun global. Dan itu adalah harga yang, untuk saat ini, mungkin belum sanggup mereka pikul.
(")
Artikel Terkait
Anggota Polri Meninggal dengan Luka Mencurigakan, Propam Polda Sulsel Lakukan Visum dan Pemeriksaan
Aktivis HAM Soroti Ironi Anggaran Negara Usai Tragedi Anak Meninggal karena Tak Mampu Beli Alat Tulis
AC Milan Tersungkur di San Siro, Kalah 0-1 dari Parma
Pakar Hukum Soroti Daya Paksa dan Krisis Kepercayaan Publik pada Aparat