Alfarisi bin Rikosen, pemuda 21 tahun itu, akhirnya meninggal dunia di dalam Rumah Tahanan Kelas I Medaeng, Sidoarjo. Peristiwa tragis ini terjadi pada 30 Desember 2025. Ia sebenarnya masih berstatus sebagai terdakwa, terkait aksi demonstrasi di Surabaya akhir Agustus lalu. Sidangnya sendiri belum selesai.
Di sisi lain, fakta bahwa Alfarisi wafat dalam status tahanan negara menempatkan beban tanggung jawab yang besar. Seluruh penguasaan atas dirinya ada di tangan otoritas. Ia belum divonis, belum ada keputusan hukum yang tetap. Jadi, keselamatan dan kesehatannya selama ditahan sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara.
Lalu, bagaimana kondisi Alfarisi sebelum meninggal? Menurut informasi yang dihimpun KontraS Surabaya, fisiknya memburuk dengan sangat drastis. Berat badannya anjlok, hanya tersisa sekitar 30 sampai 40 kilogram. Tekanan psikologis yang ia alami juga disebut sangat berat.
Bahkan, rekan satu selnya mengaku melihat Alfarisi mengalami kejang-kejang sebelum akhirnya tak bernyawa.
Nah, dari pemeriksaan awal tim medis rutan, penyebab kematiannya diduga karena penyakit pernapasan. Namun begitu, ini agak mengherankan. Soalnya, sebelumnya Alfarisi tidak punya riwayat penyakit serius semacam itu. Ada yang janggal.
Artikel Terkait
Han Ji Min dan Lee Joon Hyuk Bawa Kisah CEO Dingin dan Sekretaris Idaman di Love Scout
Kejati Sumsel Gagalkan Kerugian Negara Rp616 Miliar dari Kredit Bermasalah
Dokter Naik Pitam soal Komentar Pandji, Tapi Dulu Diam Saat Prabowo Sindir Fisik Bahlil
Sutoyo Abadi: Presiden Terkurung, Staf Strategis Didesak Mundur