Tanggapan keras datang dari Beijing menyusul aksi Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Operasi pasukan elite AS itu, yang berujung pada pengadilan kasus narkoba di negeri Paman Sam, langsung memicu gelombang kecaman.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, tak tinggal diam. Saat berada di Pakistan hari Senin lalu, diplomat senior itu dengan tegas menyindir Washington. Ia mempertanyakan dasar hukum penangkapan tersebut dan menolak mentah-mentah klaim sebagai "hakim dunia".
“Kami tak pernah bisa percaya ada negara di dunia yang bisa bertindak sebagai polisi dunia, ataupun kami bisa menerima ada negara yang mengeklaim diri sebagai hakim dunia,” ujar Wang Yi.
“Kedaulatan dan keamanan semua negara harus dilindungi secara penuh di bawah hukum internasional,” tambahnya.
Memang, Wang tidak menyebut AS secara gamblang. Tapi maksudnya jelas. Sikap ini sejalan banget dengan prinsip lama China: non-intervensi. Beijing selalu gerah melihat aksi militer sepihak, apalagi yang tanpa lampu hijau dari Dewan Keamanan PBB.
Kekesalan China ternyata tak cuma di level menteri. Di New York, Pelaksana Tugas Pemimpin Misi Permanen China untuk PBB, Sun Lei, juga menyuarakan hal serupa dalam pertemuan khusus Dewan Keamanan. Ia menyatakan keterkejutan dan kutukan atas insiden tersebut.
“Cara militer bukanlah solusi atas masalah, dan penggunaan kekuatan tanpa pandang bulu hanya akan memicu krisis yang lebih besar,” tegas Sun Lei.
Reaksi keras ini mungkin nggak terlalu mengejutkan kalau kita lihat sejarah hubungan Caracas-Beijing. Venezuela sudah mengakui kedaulatan China sejak 1974. Ikatan mereka makin kental di era Hugo Chavez berkuasa.
Venezuela pun secara perlahan menjauh dari pengaruh AS, sambil merapat ke China. Mereka bahkan kerap memuji model kepemimpinan Partai Komunis China. Pasca Chavez, Maduro justru memperkuat lagi hubungan ini. Buktinya, anaknya sendiri disekolahkan di salah satu kampus ternama di Beijing.
Jadi, dukungan China ke Maduro bukan hal baru. Ini soal prinsip, sekaligus soal menjaga sekutu lama di halaman belakang Amerika.
Artikel Terkait
Dua Tewas dalam Kecelakaan Beruntun di Sidoarjo, Berawal dari Mobil Diduga Dikemudikan Sopir Mengantuk
Federasi Iran Klaim Jatah Tiket Piala Dunia 2026 Dicabut Sepihak, Suporter Terancam Gagal Nonton
Puluhan Dapur Makan Bergizi Gratis di Jombang Berhenti Beroperasi Akibat Dana Operasional dari BGN Mandek
Timnas Indonesia Tutup FIFA Matchday Juni 2026 dengan Kemenangan Sempurna, Taklukkan Mozambik 1-0