✍🏻 Ustadz Muhammad Abduh Negara
Ada satu kesalahan yang dulu dilakukan Anies, Pandji, dan sejumlah tokoh lain. Mereka terlalu cepat kagum. Saat Jokowi baru muncul, pujian sudah dilontarkan untuk sosok yang sebenarnya belum benar-benar mereka kenal.
Informasi yang mereka dapat waktu itu, ya cuma dari media. Dan media sendiri, harus diakui, saat itu juga terlihat begitu bersemangat memoles citranya. Semuanya serba cepat, serba instan.
Padahal, yang seharusnya dilakukan jelas: pelajari dulu rekam jejaknya. Gali gagasan dan visinya. Perhatikan juga kemampuannya merangkai kata-kata, serta berbagai aspek lain yang penting. Tapi sayang, banyak orang memang suka tergesa-gesa.
Gesa-gesa memuji, eh yang dipuji malah penipu. Gesa-gesa merekomendasikan, yang direkomendasikan ternyata koruptor. Atau buru-buru mempromosikan sesuatu, tapi produknya justru gagal total.
Lantas, di mana bedanya?
Anies dan Pandji itu termasuk yang awal-awal mendukung Jokowi. Wajar sih, orang Indonesia kan sering girang dengan hal baru. Selalu berharap ada kejutan, atau mungkin dalam hati kecil menunggu datangnya sosok "Ratu Adil".
Namun begitu, mereka tidak butuh waktu lama untuk mundur. Begitu mulai mencium keanehan pada sosok dan rezimnya, mereka memilih menarik dukungan.
Nah, kasus Slank lain cerita. Dukungan mereka pada Jokowi dan tentu saja PDIP di belakangnya bisa dibilang setia banget. Sudah sejak 2012. Mereka juga mendukung Ahok di Pilkada DKI. Bahkan, salah satu personelnya mendapat jabatan komisaris BUMN dari 2021 sampai 2024.
Mari jujur saja. Pemberian posisi komisaris BUMN seperti itu seringkali dianggap sebagai bentuk balas jasa. Semacam bagi-bagi kue kekuasaan untuk pendukung, yang kadang kurang mempertimbangkan kompetensi. Dan menariknya, dukungan mereka baru berhenti ketika PDIP dan Jokowi sendiri akhirnya pecah kongsi.
Dari sini, rekam jejak menjadi jelas. Orang yang 'hanya sempat tertipu' tentu sangat berbeda dengan mereka yang 'sudah menikmati kue kekuasaan'.
Sebagai catatan terakhir, soal Pandji.
Sejak awal muncul di media, sikapnya memang selalu kritis terhadap pemerintah. Dulu, era SBY pun sering jadi bahan candaannya. Jadi, buat yang baru lahir kemarin dan menganggap SBY itu presiden sangat berwibawa tanpa cela, mungkin anda memang terlambat hidup, brother.
Dulu bahkan ada aksi demonstrasi yang membawa kerbau dengan tulisan "SiBuYa". Itu sindiran yang keras, dan benar-benar terjadi.
Artikel Terkait
Bandara Koroway Batu Beroperasi Kembali dengan Pengamanan Ketat Pasca Insiden Penembakan Pilot
ASDP Terapkan Diskon Tiket dan Tarif Tunggal untuk Mudik Lebaran 2026
Wakil Ketua BS OJK Soroti Kontradiksi Nilai Ramadhan dengan Korupsi Rp310 Triliun
Anggota Polri Meninggal dengan Luka Mencurigakan, Propam Polda Sulsel Lakukan Visum dan Pemeriksaan